Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kecurigaan Zelenskiy Terbukti, Intelijen Eropa Sebut Rusia Tak Ingin Cepat Berdamai Dengan Ukraina

        Kecurigaan Zelenskiy Terbukti, Intelijen Eropa Sebut Rusia Tak Ingin Cepat Berdamai Dengan Ukraina Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pejabat Intelijen Eropa mengungkapkan bahwa tidak ada sinyal perdamaian dalam waktu dekat untuk konflik dari Rusia-Ukraina. Moskow ingin perang terus berlanjut adn tak berniat untuk berdamai meski negosiasi dilakukan dengan Kiev.

        Dikutip dari Reuters, Intelijen Eropa menilai menyebut tak ada harapan perang akan selesai dalam waktu dekat untuk Rusia dan Ukraina. Moskow menurutnya hanya melihat kesempatan untuk berdialog dengan Amerika Serikat (AS).

        Baca Juga: Amerika Serikat (AS) Sentil Ukraina, Ungkit Biaya Perang Lawan Rusia

        “Pembicaraan ini lebih menyerupai negotiation theatre,” kata Intelijen Eropa.

        Rusia menurutnya hanya memanfaatkan pembicaraan sebagai sarana untuk mendorong pelonggaran sanksi dan membuka peluang kesepakatan bisnis, bukan untuk mencapai perdamaian substantif dengan Ukraina.

        “Rusia tidak mencari perjanjian damai. Mereka mengejar tujuan strategisnya, dan tujuan itu tidak berubah," katanya.

        Rusia menurut intelijen ini memiliki tujuan strategi yang mencakup menyingkirkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy. Ukraina juga berupaya disiapkan sebagai negara netral penyangga antara Rusia dan Barat.

        Baca Juga: Zelenskiy: Ukraina Tidak Akan Pernah Memaafkan Amerika Serikat (AS)

        Intelijen Eropa juga menyebut bahwa tak ada desakan untuk mengakhiri perang dari Rusia-Ukraina. Moskow tidak merasa terdesak secara ekonomi untuk segera mengakhiri konflik. Perekonomian Rusia dinilai tidak berada di ambang kehancuran, sehingga pemerintahannya tidak memiliki tekanan besar untuk mencapai perdamaian cepat.

        Sebelumnya, Ukraina dan Rusia menggelar pertemuan ketiga yang dimediasi Amerika Serikat. Namun, pembicaraan tersebut kembali berakhir tanpa terobosan, terutama terkait isu paling sensitif, yakni wilayah.

        Zelenskiy tampak frustrasi dengan minimnya kemajuan berarti. Delegasi Rusia menurutnya lebih tertarik membahas akar sejarah konflik dibanding mencari solusi jangka pendek. Ia juga curiga bahwa musuhnya itu sengaja mengulur waktu dan memperpanjang konflik dari Rusia-Ukraina.

        Baca Juga: Rusia Sentil Amerika Serikat (AS), Jangan Macam-macam Apalagi Berani Serang Iran

        “Saya tidak butuh omong kosong sejarah untuk mengakhiri perang ini dan beralih ke diplomasi. Itu hanya taktik untuk menunda,” kata Zelenskiy.

        Zelenskiy juga mengaku bahwa pihaknya mendapatkan tekanan yang hebat untuk menyerahkan wilayah dari Donbas ke Rusia. Tekanan ini bukan datang dari musuh, melainkan sekutunya yakni Trump.

        Baca Juga: Iran Ngotot Pertahankan Ambisi Nuklir, Trump: Tidak Ada Kata Damai

        Zelenskiy mengatakan tidak adil jika pihaknya yang selalu mendapatkan tekanan dari sekutunya sendiri. Menurutnya, tuntutan pengambilalihan wilayah tidak dapat diterima secara politik maupun emosional oleh Ukraina.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: