Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rusia Serukan Gencatan Senjata, tapi Intelijen AS Ungkap Moskow Bantu Iran Bidik Kapal Perang Amerika

Rusia Serukan Gencatan Senjata, tapi Intelijen AS Ungkap Moskow Bantu Iran Bidik Kapal Perang Amerika Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Putin menelepon Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Sabtu (7/3) untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus menyerukan penghentian perang di Timur Tengah.

Tapi di hari yang sama, laporan intelijen AS mengungkap fakta yang bertolak belakang, yaitu Rusia diduga diam-diam membocorkan lokasi kapal perang dan pesawat tempur Amerika kepada Iran, informasi yang bisa digunakan untuk menyerang pasukan AS di kawasan itu.

Pernyataan Kremlin menyebutkan Putin menegaskan kembali posisi prinsipil Rusia mengenai perlunya penghentian segera permusuhan dan kembali ke jalur penyelesaian politik dan diplomatik.

Presiden Pezeshkian dari pihaknya menyampaikan terima kasih atas solidaritas Rusia dengan rakyat Iran keduanya sepakat melanjutkan kontak melalui berbagai saluran.

Rusia disebut telah memberikan intelijen kepada Iran mengenai lokasi dan pergerakan pasukan, kapal, serta pesawat militer Amerika menurut beberapa sumber yang mengetahui laporan intelijen AS soal isu ini.

Sebagian besar informasi yang dibagikan berasal dari citra satelit canggih milik Moskow yang digambarkan Washington Post sebagai "exquisite" jauh melampaui kemampuan pelacakan Iran sendiri yang disebut telah melemah sejak AS dan Israel mulai melancarkan serangan.

Ini menjadi indikasi pertama bahwa Moskow berupaya terlibat secara aktif dalam perang yang diluncurkan AS dan Israel terhadap Iran sepekan lalu.

Pejabat AS mengingatkan bahwa intelijen yang ada belum mengungkap apakah Rusia sedang mengarahkan Iran soal apa yang harus dilakukan dengan informasi tersebut, tapi keterlibatan itu sendiri sudah cukup untuk mengubah kalkulasi konflik secara mendasar.

Respons resmi dari kedua pihak terasa janggal. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, saat ditanya apakah Moskow telah memberikan bantuan militer atau intelijen kepada Teheran sejak perang dimulai, memilih tidak menjawab langsung.

"Kami sedang dalam dialog dengan pihak Iran, dengan perwakilan kepemimpinan Iran, dan tentu akan melanjutkan dialog ini," ujarnya dikutip dari Anadolu.

Washington memilih nada meremehkan. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan laporan tersebut jelas tidak membuat perbedaan apa pun terhadap operasi militer di Iran karena sepenuhnya menghancurkan mereka.

"Rakyat Amerika bisa tenang, panglima tertinggi mereka sangat menyadari siapa yang berbicara dengan siapa. Dan apa pun yang seharusnya tidak terjadi, baik secara terbuka maupun lewat jalur belakang, sedang dihadapi dan dihadapi dengan tegas," kata Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam wawancara dengan CBS News 60 Minutes.

Ada ironi besar yang tidak bisa diabaikan. Ukraina kini justru menjadi pihak yang dimintai keahliannya oleh AS dan sekutunya di Timur Tengah untuk menghadapi drone Shahed buatan Iran drone yang selama ini juga digunakan Rusia untuk menyerang kota-kota Ukraina hampir setiap malam.

Presiden Zelenskyy menyebut telah berbicara dengan Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Yordania, dan Kuwait soal kemungkinan kerja sama pertahanan.

"Ukraina tahu cara bertahan dari serangan drone Shahed karena kota-kota kami telah menghadapinya hampir setiap malam," ujar Duta Besar Ukraina untuk AS.

Hubungan Rusia-Iran sendiri bukan baru terbentuk. Pemerintahan Biden sebelumnya telah mendeklasifikasi temuan intelijen yang menunjukkan Iran memasok Moskow dengan drone serang dan membantu Kremlin membangun pabrik manufaktur drone sebuah kemitraan yang kini berbalik arah, dengan Moskow yang membayar utang budi lewat intelijen satelit.

Baca Juga: Donald Trump Tuntut Iran Menyerah Tanpa Syarat untuk Akhiri Perang

Tiga Perang dalam Satu Krisis

Yang kini terjadi bukan lagi konflik bilateral. Ini adalah tiga perang yang saling terhubung dalam satu krisis global: perang AS-Israel melawan Iran di Timur Tengah, perang Rusia di Ukraina yang kini merembet lewat proxy intelijen, dan perang dagang serta energi yang melibatkan China di Selat Hormuz.

Keterlibatan Rusia menandai pergeseran dari apa yang sebelumnya diperkirakan para analis bahwa Moskow akan menjauh dari konflik dan membatasi responsnya pada kecaman diplomatik saja menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya adalah salah satu pesaing nuklir terbesar AS kini secara aktif membantu pihak yang sedang berperang melawan Washington.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Belinda Safitri