Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Dari Bangkok ke Sukabumi: Palm dan Ambisi SCG Menghijaukan Industri Semen Indonesia

        Dari Bangkok ke Sukabumi: Palm dan Ambisi SCG Menghijaukan Industri Semen Indonesia Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri semen bukan sektor yang mudah dipimpin. Ia padat modal, intensif energi, dan berada di tengah sorotan global karena kontribusinya terhadap emisi karbon. Namun bagi Pattaraphon Charttongkum—yang akrab disapa Palm—tantangan itu justru menjadi ruang untuk bertransformasi.

        Sebagai Presiden Direktur SCG Indonesia, Palm memimpin sekitar 8.000 karyawan dalam ekosistem bisnis yang tak hanya menghadapi tekanan oversupply, tetapi juga tuntutan dekarbonisasi dan perubahan perilaku pasar. Di bawah kepemimpinannya, SCG Indonesia memilih satu arah yang tegas: membangun diferensiasi melalui keberlanjutan dan semen rendah karbon.

        Tumbuh Bersama Satu Perusahaan

        Palm bukanlah eksekutif yang berpindah-pindah korporasi demi jenjang karier. SCG adalah satu-satunya perusahaan tempat ia bertumbuh sejak lulus kuliah di Bangkok, Thailand.

        Ia mengenal SCG pertama kali melalui program magang bertajuk SCG Excellent Internship. Saat itu, sebagai mahasiswa Ilmu Politik, Palm bahkan belum benar-benar memahami reputasi perusahaan tersebut.

        “Saya tidak tahu perusahaan apa SCG itu. Tapi setelah magang dua bulan, saya sangat terkejut dengan perusahaan ini,” kenangnya dalam bincang Meet the Leaders bersama Warta Ekonomi, dikutip Sabtu (28/2/2026)

        Kesan itu muncul bukan karena skala bisnis semata, melainkan karena nilai yang dianut perusahaan. Dalam program magang tersebut, Palm ikut terlibat dalam kegiatan sosial membangun bendungan kecil (check dam) bersama masyarakat di wilayah pegunungan Thailand Utara untuk mencegah banjir.

        Bagi Palm, pengalaman itu membentuk pandangannya tentang bagaimana perusahaan seharusnya beroperasi: tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga hadir sebagai bagian dari solusi sosial.

        Latar belakang keluarganya turut membentuk karakter tersebut. Ia tumbuh dalam keluarga kelas menengah biasa. Ayahnya pegawai negeri, ibunya menjalankan usaha kecil-kecilan di rumah. Pendidikan tinggi bukan sesuatu yang datang dengan mudah.

        “Saya berusaha mendapatkan beasiswa dan nilai yang bagus untuk membantu keluarga,” ujarnya.

        Nilai ketekunan dan tanggung jawab itu terbawa hingga kini, ketika ia memimpin operasi SCG Indonesia.

        Baca Juga: Bangun Bisnis Sekaligus Masyarakat: Strategi Sosial SCG Indonesia

        SCG dan Jejak Seabad di Asia Tenggara

        SCG, atau The Siam Cement Group, berdiri pada 1913 atas inisiatif Raja Rama VI Thailand untuk mengurangi ketergantungan impor semen dari Eropa. Dari satu pabrik semen, perusahaan berkembang menjadi konglomerasi regional dengan lini bisnis mencakup bahan bangunan, kimia, kemasan, logistik hingga energi terbarukan.

        Lebih dari 100 tahun berdiri, SCG kini memiliki lebih dari 50.000 karyawan secara global, dengan basis utama di Thailand, Vietnam, dan Indonesia.

        Di Indonesia, SCG mulai beroperasi sejak 1992, awalnya melalui bisnis perdagangan dan impor semen dari Thailand. Pabrik semen di dalam negeri dibangun sekitar satu dekade lalu. Kini, SCG Indonesia memiliki 38 perusahaan dan sekitar 8.000 karyawan.

        Palm sendiri tiba di Indonesia pada 2021, di masa pandemi. Awalnya ia mengaku memiliki kekhawatiran tentang negara baru yang akan dipimpinnya. Namun pengalaman langsung mengubah persepsinya.

        “Saat saya mendarat di Jakarta dan keluar dari karantina, saya sangat terkejut. Tidak ada bedanya dengan Bangkok,” katanya sambil tersenyum.

        Ia menyebut Indonesia sebagai negara yang kaya budaya, sumber daya, dan potensi pertumbuhan. Pengalaman lintas negara—Thailand, Vietnam, dan kini Indonesia—membuatnya terbiasa menghadapi perbedaan budaya dengan pikiran terbuka.

        “Langkah pertama adalah menerima perbedaan. Setelah itu belajar bahasanya. Itu membuat adaptasi jauh lebih mudah.”

        Industri Semen dalam Tekanan

        Namun romantisme lintas budaya tak mengurangi kerasnya realitas industri. Dalam lima tahun terakhir, sektor semen nasional berada dalam kondisi kelebihan pasokan. Kapasitas produksi jauh melampaui permintaan domestik.

        “Semen adalah produk komoditas. Sangat sulit membedakan mana semen SCG dan mana merek lain,” ujarnya.

        Dalam situasi seperti ini, persaingan harga menjadi tak terhindarkan. Margin menipis, efisiensi menjadi keharusan. Bagi Palm, bertahan dalam kondisi oversupply tidak cukup hanya dengan menjual volume.

        SCG memilih jalan berbeda: diferensiasi berbasis ESG (Environmental, Social, Governance).

        Palm menyadari bahwa perubahan bukan hanya datang dari sisi regulasi, tetapi juga dari perilaku konsumen.

        “Sekarang pelanggan saat membeli produk, mereka melihat apakah produk ini hijau atau tidak.”

        Kesadaran lingkungan yang meningkat membuat produk dengan jejak karbon lebih rendah mulai mendapat perhatian.

        Menjawab Emisi dengan Semen Rendah Karbon

        Industri semen dikenal sebagai salah satu penyumbang emisi karbon terbesar dalam sektor manufaktur. Proses pembakaran klinker membutuhkan suhu sangat tinggi dan konsumsi bahan bakar besar.

        Palm tidak menutup fakta tersebut.

        “Secara alami proses semen selalu menghasilkan banyak polusi karena ini adalah manufaktur berat.”

        Namun menurutnya, tantangan itulah yang harus dijawab dengan inovasi.

        SCG Indonesia mengembangkan dan meluncurkan Semen Rendah Karbon sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi. Fokusnya bukan hanya pada produk akhir, tetapi juga pada proses produksi.

        Perusahaan berupaya menekan emisi melalui efisiensi energi, optimalisasi teknologi, serta pengurangan penggunaan bahan bakar fosil.

        “Kami mencoba mengurangi bahan bakar fosil dengan menggunakan bahan bakar alternatif,” jelas Palm.

        Salah satu langkah konkret adalah pengembangan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) di Sukabumi. Sampah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan diolah menjadi bahan bakar alternatif untuk pabrik semen.

        Pendekatan ini menghadirkan dua manfaat sekaligus: mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan membantu pengelolaan sampah daerah.

        Inclusive Green Growth: Tumbuh Bersama

        Bagi Palm, strategi keberlanjutan tidak bisa berdiri sendiri. Ia merumuskannya dalam konsep Inclusive Green Growth.

        “Inklusif berarti kami melakukannya bersama pemerintah, swasta, dan masyarakat.”

        Konsep ini diterjemahkan dalam berbagai program sosial dan lingkungan. Di Sukabumi, SCG menjalankan program pemberdayaan UMKM bernama SCG Gesari. Ada pula SCG Mentari untuk pengelolaan sampah berbasis komunitas, serta program beasiswa SCG Sharing the Dream bagi pelajar SMA dan mahasiswa.

        Bagi Palm, pertumbuhan tidak boleh eksklusif. “Kami tidak ingin tumbuh sendirian. Kami ingin masyarakat dan mitra tumbuh bersama.”

        Ia percaya keberlanjutan bisnis hanya bisa dicapai jika ekosistem di sekitarnya juga kuat.

        Momentum Pasca-Pandemi

        Menariknya, Palm menyebut periode pasca-COVID sebagai salah satu fase terkuat bagi industri bahan bangunan.

        “Setelah COVID pasar semen dan bahan bangunan menjadi bagus,” ujarnya.

        Perubahan gaya hidup selama pandemi mendorong masyarakat melakukan renovasi dan investasi pada hunian. Namun ia menyadari momentum tersebut bersifat siklus. Transformasi menuju keberlanjutan harus tetap menjadi fondasi jangka panjang.

        Kepemimpinan yang Membuka Potensi

        Memimpin ribuan karyawan di berbagai entitas bisnis membutuhkan pendekatan yang berbeda dari sekadar pengambilan keputusan strategis.

        “Peran pemimpin yang paling penting adalah mencoba membuka potensi karyawan.”

        Palm menekankan pemberdayaan dan komunikasi terbuka. Ia percaya karyawan yang diberi ruang untuk berkembang akan menciptakan nilai jangka panjang bagi perusahaan.

        Menurutnya, bisnis yang sehat tidak hanya diukur dari angka, tetapi juga dari suasana kerja dan keterlibatan tim.

        Ke depan, Palm melihat industri semen Indonesia tetap menghadapi tantangan struktural, mulai dari oversupply hingga tekanan regulasi lingkungan. Namun ia optimistis transformasi menuju produk rendah karbon akan menjadi arah utama.

        Perubahan perilaku konsumen, target Net Zero Emission 2060, dan tuntutan pasar global membuat dekarbonisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

        SCG Indonesia memilih untuk berada di garis depan perubahan itu.

        Di tengah industri yang identik dengan emisi tinggi, Palm ingin membuktikan bahwa transformasi bisa dilakukan—bahwa manufaktur berat pun dapat bergerak menuju masa depan yang lebih hijau.

        Bagi Palm, perjalanan dari Bangkok ke Sukabumi bukan sekadar perpindahan geografis. Ia adalah bagian dari transformasi yang lebih besar—mengubah cara industri semen beroperasi, dan memastikan bahwa pertumbuhan dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Istihanah

        Bagikan Artikel: