Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Pasar saham Amerika Serikat (AS) pada sesi pre-market Senin (2/3/2026) diperdagangkan melemah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Indeks S&P 500 turun 1,43%, Dow Jones Industrial Average (DJIA) terkoreksi 1,42%, dan Nasdaq anjlok 1,80%. S&P 500 diproyeksikan bergerak pada kisaran 6.700–6.900.
Tekanan di pasar AS terjadi seiring laporan serangan Iran terhadap kilang minyak Saudi Aramco di Arab Saudi, yang memperburuk eskalasi konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Financial Expert Ajaib, Alvin Timothy Murthi, menilai sentimen negatif dipicu memburuknya kondisi geopolitik.
“Saat ini Iran secara militer dipimpin oleh kepala bidang keamanan, Ali Larijani. Sedangkan untuk pemerintahan telah dibentuk pemerintahan sementara di bawah Imam Besar Ayatollah Alireza Arafi dan Presiden Masoud Pezeshkian,” ujar Alvin dalam analisanya.
Di tengah tekanan mayoritas indeks, sejumlah saham mencatatkan kenaikan pada sesi pre-market, yakni $DELL (+13,22%), $NFLX (+11,56%), $OXY (+2,36%), $XOM (+1,99%), dan $NEM (+1,84%).
Di kawasan Asia-Pasifik, mayoritas indeks juga ditutup melemah. Nikkei 225 terkoreksi 1,35%, Hang Seng Index (HSI) turun 2,14%, dan NIFTY 50 melemah 1,68%. Sementara itu, SSE Composite menguat 0,47% dan KOSPI stagnan di 0,00%.
Alvin menilai eskalasi konflik yang melibatkan AS dan Israel berpotensi mendorong aset safe haven seperti emas menuju rekor tertinggi baru atau all time high (ATH). Saham berbasis emas seperti $NEM, $AEM, $B serta exchange traded fund (ETF) emas dan perak seperti $GLD dan $SLV dinilai menarik untuk diakumulasi.
Selain emas, saham sektor pertahanan seperti $NOC, $LMT, dan $BA diproyeksikan menguat seiring potensi peningkatan belanja militer. Saham sektor oil and gas seperti $CVX, $XOM, dan $OXY juga berpeluang terdorong kenaikan harga energi.
Di sisi lain, saham mega caps diperkirakan mengalami volatilitas tinggi. Alvin menyebut saham dengan valuasi relatif murah seperti $AMZN dan $META layak dipantau.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: