Kredit Foto: Kemenperin
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong industri kecil dan menengah (IKM), khususnya pada subsektor fesyen dan kriya agar mampu beradaptasi dengan tren pasar global, memperkuat daya saing, serta menjadi motor penggerak utama dalam pengembangan industri kreatif nasional.
Subsektor ini memiliki rantai nilai yang panjang dari hulu hingga hilir yang saling terhubung dalam menciptakan nilai tambah dan daya saing global. Rantai nilai tersebut mencakup penyediaan bahan baku, desain dan prototyping, proses produksi, branding dan pemasaran, hingga distribusi produk.
Baca Juga: Menkop Soroti Dana Umat Ratusan Triliun yang Belum Terserap Optimal
“Data terbaru menunjukkan bahwa industri fesyen dan kriya tetap menjadi salah satu andalan dalam ekonomi kreatif Indonesia,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Rabu (25/3).
Produk kriya dan fesyen dalam negeri juga terbukti mampu bersaing dan diminati di pasar ekspor. Hal ini tercermin dari nilai ekspor industri kerajinan pada tahun 2025 yang mencapai USD 806,63 juta, sementara nilai ekspor industri fesyen yang erat kaitannya dengan industri pakaian jadi mencapai USD 8,85 miliar.
“Capaian tersebut menegaskan posisi strategis subsektor fesyen dan kriya sebagai penggerak penting ekonomi kreatif nasional serta menunjukkan peluang pertumbuhan produk kreatif Indonesia di pasar global,” ungkap Menperin.
Agus menambahkan, pelaku IKM di sektor fesyen dan kriya perlu terus mengembangkan keunggulan desain serta nilai tambah produknya seiring dengan perkembangan tren pasar dan perubahan gaya hidup masyarakat.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Product Innovation Management oleh Gemser dan Leenders (2021), perusahaan yang mengintegrasikan desain dalam proses pengembangan produknya memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukannya.
“Temuan ini menegaskan bahwa desain bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari strategi pertumbuhan dan peningkatan daya saing industri. Industri kreatif fesyen dan kriya harus memiliki nilai tambah melalui desain yang kuat dan berbeda,” tegasnya.
Sebagai bagian dari upaya penguatan tersebut, Kemenperin melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) yang berada di bawah Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), menggelar forum Design Talk pada 6 Maret 2026 di Badung, Bali dengan tema “Strategi Penguatan Daya Saing Industri Kreatif melalui Desain”. Kegiatan ini menjadi ajang diskusi dan berbagi pengetahuan antara perajin dan pelaku IKM dengan para pemangku kepentingan lainnya seperti akademisi serta praktisi desain.
Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menjelaskan, BPIFK menggandeng Asosiasi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII) sebagai kolaborator strategis dalam memperkuat peran desain dalam pengembangan produk industri.
“Kegiatan bincang-bincang dengan topik Design as Industrial Foundation ini diikuti oleh 75 peserta yang berasal dari pelaku IKM, akademisi, serta praktisi desain,” ujarnya.
Reni menambahkan, kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya untuk mendorong peningkatan daya saing IKM fesyen dan kriya sekaligus mempertemukan perspektif industri, profesional desain, dan pelaku usaha dalam satu ruang diskusi yang terintegrasi.
Sementara itu, Kepala BPIFK Dickie Sulistya menyampaikan, peningkatan daya saing IKM tidak hanya bergantung pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga perlu diperkuat melalui pemahaman desain, inovasi produk, serta strategi pengembangan produk yang berkelanjutan.
Baca Juga: Kemenkop Perkuat Ekosistem Perikanan Lewat Industri Pendukung
“Melalui Design Talk, BPIFK membuka ruang berbagi gagasan sekaligus menjembatani pelaku IKM dengan pengetahuan serta jejaring yang dapat mendorong desain menjadi titik awal dalam membangun industri yang lebih kuat,” tuturnya.
Melalui berbagai program pembinaan tersebut, Kemenperin terus berkomitmen memperkuat ekosistem industri kreatif nasional agar mampu menghasilkan produk fesyen dan kriya yang inovatif, bernilai tambah tinggi, serta berdaya saing di pasar global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya