Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Business Matching Jadi Sarana Perluas Pasar IKM Kerajinan

Business Matching Jadi Sarana Perluas Pasar IKM Kerajinan Kredit Foto: Kemenperin
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa temu bisnis atau business matching menjadi salah satu saranan penting dalam memperluas pasar bagi industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan nasional.

Melalui kegiatan business matching, para pelaku IKM dapat bertemu langsung dengan calon buyer dan mitra industri. Interaksi ini membuka peluang kemitraan sekaligus memperluas jaringan pemasaran, sehingga mendukung penguatan ekosistem industri kerajinan nasional agar semakin berdaya saing.

Baca Juga: Purbaya Sentil Analis TikTok-YouTube: Ekonomi RI Tak Akan Hancur!

“Melalui forum business matching, pelaku IKM kerajinan dapat berinteraksi langsung dengan buyer dan mitra industri sehingga membuka peluang kerja sama yang lebih luas. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat ekosistem industri kerajinan nasional agar semakin berdaya saing,” ujar Menperin, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Senin (16/3).

Menperin mengatakan industri kerajinan merupakan salah satu sektor yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia di pasar global.

“Industri kerajinan Indonesia memiliki keunggulan pada kreativitas, kekayaan budaya, serta keterampilan para perajin. Pemerintah terus berupaya memaksimalkan penguatan daya saing sektor ini melalui berbagai program pembinaan, termasuk membuka akses pasar yang lebih luas dan berkelanjutan melalui kegiatan business matching,” tuturnya.

Menurut Menperin, penguatan konektivitas antara pelaku IKM dengan buyer dan mitra industri menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan industri kerajinan nasional. Selain itu, sinergi dengan sektor hospitality juga membuka peluang pemanfaatan produk kerajinan sebagai bagian dari dekorasi interior, furnitur, maupun berbagai kebutuhan operasional hotel dan restoran.

Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) menyelenggarakan kegiatan Business Matching IKM Kerajinan 2026 di Yogyakarta pada 10 Maret 2026. Kegiatan ini mempertemukan pelaku IKM kerajinan dengan berbagai calon pembeli (buyer), mitra industri, asosiasi, serta pemangku kepentingan dari sektor hospitality seperti hotel dan restoran.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menjelaskan, kegiatan business matching merupakan salah satu strategi Ditjen IKMA dalam memperluas jaringan pemasaran sekaligus meningkatkan kesiapan IKM untuk memasuki pasar yang lebih luas.

“Melalui kegiatan business matching ini, pelaku IKM kerajinan dapat berinteraksi langsung dengan buyer dan mitra industri sehingga membuka peluang kerja sama yang lebih luas. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat ekosistem industri kerajinan nasional agar semakin berdaya saing,” ungkap Reni.

Dirjen IKMA juga menambahkan bahwa produk kerajinan Indonesia terbukti mampu menembus pasar ekspor dan menunjukkan kinerja yang cukup positif. Berdasarkan data Kemenperin, nilai ekspor produk kerajinan Indonesia pada tahun 2025 mencapai USD806,63 juta, meningkat 15,46 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar USD698,62 juta. Pasar utama produk kerajinan Indonesia antara lain China, Taiwan, Amerika Serikat, Jepang, serta negara-negara di kawasan Eropa.

Baca Juga: Purbaya Bantah Isu Resesi, Ekonomi RI Justru Melaju Kencang

“Peningkatan kinerja ekspor ini menunjukkan produk kerajinan nasional memiliki potensi besar untuk terus berkembang di pasar global. Oleh karena itu, peningkatan kualitas produk, inovasi desain, konsistensi kualitas produksi, serta penguatan jaringan pemasaran menjadi hal yang sangat penting untuk terus diperkuat oleh para pelaku IKM kerajinan,” tambah Reni.

Kegiatan Business Matching IKM Kerajinan 2026 diikuti oleh 50 pelaku IKM kerajinan dari berbagai daerah di Indonesia. Selain pelaku IKM, kegiatan ini juga menghadirkan berbagai pemangku kepentingan seperti perwakilan kementerian/lembaga, asosiasi industri, hingga sektor hospitality yang berpotensi menjadi pengguna produk kerajinan dalam negeri.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin, Budi Setiawan menyampaikan, kegiatan ini tidak hanya menjadi forum pertemuan bisnis, tetapi juga ruang pembelajaran bagi pelaku IKM untuk memahami kebutuhan pasar secara lebih komprehensif.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pertemuan antara IKM dan buyer, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi pelaku IKM untuk memahami kebutuhan pasar serta meningkatkan kesiapan usaha mereka dalam menjalin kerja sama bisnis yang berkelanjutan,” ujar Budi.

Rangkaian kegiatan Business Matching diawali dengan sesi diskusi panel yang menghadirkan narasumber dari berbagai sektor. Pada sesi ini, peserta mendapatkan wawasan mengenai pentingnya legalitas bahan baku melalui Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dan aspek legalitas bahan baku dalam mendukung keberlanjutan industri kerajinan berbasis sumber daya alam.

Diskusi juga menghadirkan perwakilan dari Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) yang memaparkan keunggulan desain dan keterampilan perajin produk kerajinan Indonesia, serta perwakilan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang menjelaskan kebutuhan produk kerajinan dalam sektor hospitality.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan sesi konsultasi bisnis dan one-on-one desk, yang mempertemukan pelaku IKM kerajinan dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk buyer, mitra industri, serta lembaga pemerintah yang terkait dengan pengembangan industri kerajinan. Dalam sesi ini, pelaku IKM dapat melakukan konsultasi secara langsung mengenai peluang kerja sama bisnis, peningkatan kualitas produk, hingga pemenuhan persyaratan pasar.

Baca Juga: Defisit APBN Bisa Tembus 3%, Purbaya Tunggu Arahan Prabowo

“Kegiatan ini juga melibatkan berbagai pihak seperti Kementerian Kehutanan, Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Yogyakarta, serta asosiasi industri yang memberikan pendampingan dan konsultasi kepada pelaku IKM terkait aspek teknis maupun regulasi yang diperlukan untuk memperluas pasar produk kerajinan,” ucap Budi.

Budi berharap, melalui kegiatan ini semakin banyak pelaku IKM kerajinan yang mampu memperluas akses pasar baik di dalam negeri maupun internasional, sekaligus memperkuat posisi industri kerajinan nasional sebagai salah satu sektor strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif dan industri berbasis budaya di Indonesia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya