Gegara Israel, Gencatan Senjata Iran dan Amerika Serikat Terancam Batal
Kredit Foto: Reuters/Amir Cohen
Israel menyatakan pihaknya mendukung gencatan senjata dari Iran dan Amerika Serikat. Namun mereka menolak gencatan senjata itu untuk terkait dengan Lebanon. Hal itu memberikan ketidakpastian di Timur Tengah.
Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan dukungannya terhadap keputusan gencatan senjata yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Namun hal tersebut juga harus dibarengi dengan pembukaan dari Selat Hormuz.
Baca Juga: Australia Kritik Retorika Trump ke Iran: Tidak Pantas Diucapkan Presiden Amerika Serikat
"Israel mendukung keputusan untuk menangguhkan serangan selama dua minggu. Iran harus segera membuka selat dan menghentikan semua serangan," katanya.
Israel menegaskan dukungannya terhadap upaya denuklirisasi dari Iran. Teheran menurutnya tak boleh lagi menjadi ancaman nuklir, rudal, maupun keamanan bagi kawasan. Washington juga disebut telah menjamin komitmen terhadap tujuan bersama tersebut dalam negosiasi mendatang.
Israel juga menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata tidak mencakup konflik di Lebanon. Hal ini berarti operasi militer mereka tetap akan berlanjut terhadap kelompok dari Hezbollah. Hal ini berpotensi mengguncang gencatan dari Iran dan Amerika Serikat.
"Amerika Serikat telah memberi tahu kami bahwa mereka berkomitmen untuk mencapai tujuan ini dalam negosiasi mendatang. Gencatan senjata dua minggu tidak termasuk Lebanon," katanya.
Pernyataan Israel ini berbeda dengan klaim dari Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Ia sebelumnya menyebut kesepakatan mencakup penghentian konflik di Lebanon. Perbedaan ini menambah ketidakjelasan terkait cakupan penuh dari gencatan senjata yang disepakati.
“Dengan senang hati saya mengumumkan bahwa kedua negara, bersama sekutu-sekutunya, telah sepakat untuk gencatan senjata segera di mana pun dalam kawasan, termasuk di Lebanon,” katanya.
Sharif juga mengonfirmasi bahwa pihaknya akan menjadi lokasi perundingan lanjutan antara kedua pihak. Iran dan Amerika Serikat diundang untuk hadir dalam pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung pada 10 April 2026. Negosiasi pada hari itu dilakukan guna mencapai kesepakatan final yang menyelesaikan seluruh perselisihan.
Baca Juga: Update Perang Iran, Amerika Serikat Akan Amankan Lalu Lintas di Selat Hormuz
Serangan Israel di Lebanon diketahui telah menewaskan sedikitnya 1.500 orang dan menyebabkan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi. Lebanon terseret dalam konflik akibat serangan dari Hezbollah ke Israel. Mereka melakukannya sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran. Hal tersebut kemudian memicu serangan balasan Israel.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: