- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Gak Main-main! Ada 14 Smelter Mineral di RI, Investasi Tembus US$7,8 Miliar
Kredit Foto: MIND ID
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno, mengungkapkan progres terbaru pembangunan smelter di Indonesia. Hingga saat ini, terdapat 14 proyek smelter di sektor minerba yang tengah dikembangkan sebagai bagian dari upaya mempercepat hilirisasi mineral nasional.
Dari total proyek tersebut, pemerintah mencatat sebanyak lima smelter telah selesai dibangun dan mulai beroperasi. Sementara itu, sembilan smelter lainnya masih berada dalam tahap pembangunan dan penyelesaian.
“Dengan rincian ada enam smelter untuk nikel, enam smelter untuk bauksit, satu smelter untuk tembaga, dan satu smelter untuk besi. Dari jumlah tersebut, lima smelter telah terbangun dan sembilan smelter dalam proses penyelesaian dengan total realisasi investasi sebesar 7,8 miliar dolar AS,” kata Tri dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (19/5/2026).
Tri kemudian memaparkan sejumlah smelter yang telah beroperasi. Salah satunya adalah fasilitas milik PT Weda Bay Nickel di Halmahera Tengah, Maluku Utara. Smelter tersebut memiliki kapasitas input 3,6 juta ton bijih nikel dengan output feronikel mencapai 300 ribu ton per tahun.
Selain itu, PT Aneka Tambang Tbk juga telah mengoperasikan smelter nikel di Kolaka, Sulawesi Tenggara, dengan kapasitas pengolahan 1,9 juta ton bijih nikel dan produksi feronikel sebesar 125.677 ton per tahun.
Di wilayah Halmahera Selatan, PT Wanatiara Persada turut memperkuat rantai hilirisasi melalui smelter berkapasitas input 2,2 juta ton bijih nikel dan output feronikel sebesar 209.650 ton per tahun.
Baca Juga: Lalai Serahkan RKAB 2026, Kementerian ESDM Bekukan Sejumlah Izin Tambang
Baca Juga: ESDM Sebut Pengadaan Awal Tabung CNG 3 Kg Lewat Impor
Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk mengoperasikan smelter di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, dengan kapasitas input mencapai 14,1 juta ton bijih nikel dan output nikel matte sebesar 94.289 ton per tahun.
Tidak hanya nikel, hilirisasi juga mulai bergerak pada komoditas tembaga. PT Freeport Indonesia telah mengoperasikan smelter tembaga di Gresik, Jawa Timur, dengan kapasitas input dua juta ton konsentrat tembaga dan produksi katoda tembaga sebesar 460 ribu ton per tahun.
Dengan bertambahnya fasilitas pengolahan tersebut, kapasitas smelter nasional pun terus meningkat. Untuk komoditas nikel, kapasitas input smelter saat ini tercatat mencapai 24,9 juta ton per tahun dengan kapasitas output sebesar 924.780 ton per tahun yang terintegrasi.
Sementara itu, smelter tembaga memiliki kapasitas input dua juta ton per tahun dengan output 460 ribu ton katoda tembaga per tahun. Adapun smelter besi memiliki kapasitas input empat juta ton per tahun dan output sebesar 1,7 juta ton per tahun.
Di sisi lain, pengembangan smelter bauksit juga menunjukkan peningkatan signifikan. Saat ini kapasitas input smelter bauksit mencapai 19,6 juta ton per tahun dengan kapasitas output alumina sebesar 7,4 juta ton per tahun.
“Angka tersebut menunjukkan bahwa basis industri pengolahan mineral mulai terbentuk,” ujar Tri.
Meski demikian, Tri menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus mengejar jumlah pembangunan smelter semata. Menurut dia, pengawasan terhadap seluruh proyek hilirisasi tetap menjadi hal penting agar fasilitas yang dibangun benar-benar mampu beroperasi optimal dan berdaya saing.
“Kami juga menyampaikan bahwa secara seimbang terdapat proyek yang perlu terus dikawal dan pemerintah tidak hanya melihat hilirisasi dari pembangunan fisik semata, tetapi juga dari kesiapan operasi, kesinambungan bahan baku, pemenuhan lingkungan, serta kepatuhan terhadap ketentuan perizinan,” katanya.
Karena itu, pemerintah ingin memastikan pembangunan smelter mampu memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi Indonesia, baik melalui peningkatan nilai tambah maupun penguatan industri domestik.
“Dengan demikian arah kami bukan hanya mengejar jumlah smelter saja, tetapi juga memastikan bahwa smelter yang terbangun betul-betul dapat beroperasi produktif, berdaya saing, dan memberikan nilai tambah bagi Indonesia,” pungkasnya.
Secara rinci, total investasi pada sektor smelter terintegrasi telah mencapai US$7,8 miliar. Capaian ini juga dibarengi dengan performa setoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang melampaui Rp56 triliun hingga pertengahan Mei 2026.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: