VIDA Bongkar Modus Baru Penipuan Kurban Digital, Jangan Asal Klik!
Kredit Foto: Antara/Siswowidodo
Menjelang Iduladha, meningkatnya transaksi kurban melalui platform digital dinilai turut membuka peluang bagi pelaku penipuan online memanfaatkan tingginya aktivitas masyarakat.
Perusahaan penyedia identitas digital dan pencegahan fraud, VIDA, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital, mulai dari penyalur kurban fiktif hingga tautan palsu yang berpotensi mencuri data pribadi.
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengatakan momen Iduladha menjadi periode ketika aktivitas transaksi digital masyarakat meningkat signifikan, sehingga kewaspadaan menjadi hal penting dalam melakukan transaksi kurban online.
“Penting untuk lebih cermat memeriksa setiap transaksi dan tidak terburu-buru mengklik tautan yang mencurigakan. Kewaspadaan sederhana dapat menjadi langkah penting untuk melindungi diri dari penipuan digital, khususnya dalam transaksi kurban online,” ujar Niki dalam keterangan resmi.
Berdasarkan Whitepaper VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook, serangan fraud digital kini semakin terorganisasi dengan memadukan berbagai metode sekaligus, seperti deepfake, social engineering, hingga account takeover.
VIDA menilai kondisi tersebut membuat aktivitas digital masyarakat, termasuk transaksi kurban online, menjadi semakin rentan terhadap kejahatan siber.
Untuk mengurangi risiko penipuan, masyarakat diminta lebih berhati-hati, seperti memilih lembaga kurban resmi dan terpercaya, mewaspadai penawaran hewan kurban dengan harga terlalu murah, serta menghindari tautan atau dokumen mencurigakan dari sumber yang tidak dikenal.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak pernah membagikan kode OTP maupun data pribadi sensitif kepada pihak lain karena lembaga kurban resmi tidak akan meminta informasi tersebut.
Baca Juga: Stok Kambing Kurban Turun, Jabar Andalkan Lonjakan Sapi dan Domba
Baca Juga: Kementan Pastikan Stok Hewan Kurban Idul Adha 2026 Surplus 891 Ribu Ekor
VIDA juga mengingatkan bahwa risiko penipuan tidak hanya menyasar pembeli, tetapi juga penyedia layanan kurban. Karena itu, penyedia layanan diminta memastikan bukti pembayaran dan dana yang diterima telah valid sebelum memproses transaksi.
Sebagai bagian dari penguatan keamanan digital, VIDA turut memperkenalkan ID FraudShield, teknologi keamanan yang menggabungkan biometric intelligence, device intelligence, dan deteksi fraud untuk membantu mendeteksi pola penipuan secara lebih menyeluruh.
“Modus penipuan digital akan terus berevolusi mengikuti kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi. Karena itu, sistem keamanan juga perlu berkembang agar mampu mengenali risiko secara lebih menyeluruh,” kata Niki.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: