Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gerindra Soal Kritik Dino Patti Djalal ke Prabowo: Serangan Politiknya Membabi Buta!

        Gerindra Soal Kritik Dino Patti Djalal ke Prabowo: Serangan Politiknya Membabi Buta! Kredit Foto: Andi Hidayat
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perdebatan soal intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto memanas. Setelah mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengkritik frekuensi perjalanan internasional Presiden yang dinilainya terlalu sering dan berbiaya besar, Partai Gerindra langsung bereaksi.

        Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman, menilai kritik yang disampaikan Dino tidak dibangun di atas informasi yang akurat. Bahkan, ia menuding kritik tersebut lebih menyerupai serangan politik daripada masukan yang konstruktif.

        "Di era demokrasi dan keterbukaan, tentu kita senantiasa membuka diri terhadap kritik, termasuk dari mantan pejabat tinggi, seperti Dino Patti Djalal. Namun demikian, sebagai sesama anak bangsa, saya harus mengkritik balik Dino," kata Habiburokhman, Selasa (2/6/2026).

        Namun, menurutnya, kritik yang disampaikan Dino justru tidak memberikan solusi dan cenderung mengarah pada upaya mendiskreditkan pemerintahan yang sedang berjalan.

        "Kritik beliau tidak produktif karena tidak berbasis info yang akurat, bahkan ada tendensi kritik beliau sebagai serangan politik yang membabi buta dan sekadar mengolok-olok pemerintahan Pak Prabowo," lanjutnya.

        Baca Juga: Gerindra Puji Sikap Elegan Megawati ke Prabowo, Etika Dino Patti Djalal Dipertanyakan

        Habiburokhman juga menanggapi usulan Dino yang menyarankan agar Presiden lebih banyak menerima kunjungan pemimpin negara lain ke Indonesia dibandingkan melakukan lawatan ke luar negeri. Menurutnya, pendekatan tersebut kurang tepat jika melihat situasi geopolitik dan geoekonomi dunia yang sedang penuh ketidakpastian.

        Ia menilai seorang kepala negara harus aktif melakukan diplomasi secara langsung demi memperjuangkan kepentingan nasional di tengah dinamika global yang terus berubah.

        Sebagai contoh, Habiburokhman menyinggung langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang melakukan kunjungan ke China untuk memperjuangkan kepentingan negaranya. Karena itu, ia menilai langkah Prabowo berkunjung ke berbagai negara merupakan bagian dari strategi diplomasi yang wajar dan diperlukan.

        "Menurut kami, justru Presiden Prabowo harus sangat proaktif, baik menerima kunjungan maupun juga mengunjungi pemimpin negara lain," ujarnya.

        Tak hanya itu, Habiburokhman juga menyoroti posisi Dino sebagai mantan pejabat diplomasi. Menurutnya, ada etika tertentu yang perlu dijaga ketika memberikan penilaian terhadap penerus yang sedang menjalankan tugas negara.

        "Sebagai mantan Wamenlu juga kurang etis jika Dino mengkritik kinerja politik luar negeri pemerintahan Prabowo," ungkap dia.

        Lebih jauh, ia menilai kritik dari mantan pejabat kepada pejabat yang sedang menjabat berpotensi menjadi bumerang apabila publik mulai membandingkan capaian keduanya.

        "Di negara negara maju, mantan pejabat membatasi diri untuk mengkritik kinerja para penerus atau penggantinya. Hal tersebut didasarkan pada sikap menghormati orang yang sedang bekerja. Kritik mantan pejabat kepada penerusnya bahkan bisa menjadi bumerang jika publik membanding kinerja si mantan dengan yang sedang menjabat," terangnya.

        Sebelumnya, Dino Patti Djalal mengunggah pandangannya melalui media sosial pada Sabtu (30/5). Dalam video tersebut, ia menilai Prabowo menjadi salah satu kepala negara yang paling sering melakukan kunjungan ke luar negeri sejak menjabat sebagai Presiden RI.

        Baca Juga: Dino Patti Djalal Sarankan Prabowo 'Ngurus Kandang' di Asia Tenggara

        "Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Semenjak menjabat menjadi Presiden, 1 dari 6 hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran. Dan sangat tidak mungkin dalam 18 bulan ke depan, Presiden Prabowo terus melakukan kunjungan internasional dalam frekuensi yang sama tingginya," kata Dino.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: