Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jokowi Absen Upacara Hari Lahir Pancasila, Pengamat Jawab Spekulasi Tanda Hubungan Retak dengan Prabowo

        Jokowi Absen Upacara Hari Lahir Pancasila, Pengamat Jawab Spekulasi Tanda Hubungan Retak dengan Prabowo Kredit Foto: Biro Setpres
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Publik dikejutkan dengan absennya Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dalam Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar di Gedung Pancasila, kompleks Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (1/6/2026).

        Pengakuan mengejutkan datang dari pihak Jokowi yang menyebut belum menerima undangan resmi hingga hari pelaksanaan.

        Ajudan Presiden ke-7 RI, AKBP Syarif Muhammad Fitriansyah, mengonfirmasi bahwa hingga Senin pagi, belum ada surat ataupun komunikasi resmi yang masuk ke pihak mereka terkait acara kenegaraan tersebut.

        "Tidak ada undangan baik berupa surat resmi maupun komunikasi lainnya," kata Syarif.

        Alhasil, Jokowi memilih untuk tetap berada di Solo, Jawa Tengah, guna menjalani kegiatan rutinnya.

        Absennya Jokowi langsung memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat. Ironisnya, Jokowi adalah sosok yang menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila melalui Keppres No. 24 Tahun 2016, sekaligus pendiri Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

        BPIP selaku penanggung jawab acara belum memberikan penjelasan resmi terkait polemik proses pengundangan tersebut.

        Padahal, jajaran mantan kepala negara lainnya terpantau menerima undangan. Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dikonfirmasi diundang meski berhalangan hadir karena bentrok jadwal.

        Sementara itu, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, serta mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan KH Ma'ruf Amin tampak hadir dan duduk di kursi undangan.

        Upacara itu sendiri dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Keakraban yang diperlihatkan Prabowo dan Megawati di lokasi upacara sontak memicu asumsi liar netizen di media sosial mengenai keretakan hubungan politik "segitiga" antara Prabowo, Jokowi, dan Megawati.

        Menanggapi isu yang menggelinding bak bola salju ini, Direktur Executif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, meminta publik untuk berkepala dingin dan tidak menyederhanakan masalah.

        Dosen UIN Jakarta ini menegaskan bahwa insiden ini kemungkinan besar murni karena kendala teknis, bukan urusan politik.

        "Sekalipun Pak Jokowi tidak hadir dalam acara peringatan Hari Lahir Pancasila ini, tentu tidak bisa disimpulkan bahwa hubungan antara Pak Jokowi dengan Pak Prabowo sedang tidak baik-baik saja," kata Adi.

        Adi menilai narasi spekulatif yang menyebut hubungan Prabowo-Jokowi merenggang akibat keakraban Prabowo-Megawati adalah hal yang tidak rasional.

        Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto memiliki komitmen kuat untuk merangkul semua mantan pemimpin bangsa demi stabilitas negara.

        "Pak Prabowo bekerja sama dengan semua pihak dan menganggap pengalaman dari Pak SBY, Ibu Megawati, serta Pak Jokowi sebagai vitamin untuk membawa Indonesia maju. Beliau membutuhkan kerja sama dari tokoh-tokoh yang pernah menjadi bagian penting di negara ini," pungkas Adi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: