Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Strategi Baru MBG Di Bawah Pimpinan Baru: Fokus 3T dan Gizi Sejak Dalam Kandungan

        Strategi Baru MBG Di Bawah Pimpinan Baru: Fokus 3T dan Gizi Sejak Dalam Kandungan Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang menegaskan arah baru program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini tidak lagi semata berfokus pada sekolah, melainkan diarahkan ke kelompok paling rentan sejak masa awal kehidupan. Ia menyebut intervensi gizi terbaik justru dimulai sejak masa kehamilan hingga anak usia sekolah dasar.

        Nanik mengatakan BGN tengah melakukan refocusing besar terhadap sasaran penerima manfaat agar program MBG lebih tepat sasaran dan berdampak jangka panjang. Menurutnya, kelompok yang menjadi prioritas ke depan adalah wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T, serta kelompok 3B yang mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

        “Jadi bisa aja sebetulnya penerima manfaatnya bertambah, tapi tambahannya ini sebetulnya mengurangi dari yang tidak fokus mungkin selama ini,” kata Nanik dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

        Ia menjelaskan, hasil diskusi dengan para pakar gizi dan dokter anak menunjukkan bahwa periode paling krusial dalam intervensi gizi adalah sejak awal kehamilan hingga anak memasuki usia sekolah dasar. Karena itu, strategi MBG akan diarahkan lebih awal sebelum anak memasuki bangku sekolah.

        “Nah, kita yang kejar ke sana,” ujarnya menegaskan perubahan arah kebijakan tersebut.

        Selain fokus pada 3B dan 3T, BGN juga mengakui adanya ketimpangan distribusi program MBG yang selama ini lebih banyak terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan aglomerasi. Sementara daerah terpencil justru belum tersentuh secara optimal oleh program tersebut.

        “Jujur sekarang yang numpuk ini di aglomerasi, yang 3T belum kesentuh. Jadi Pak Presiden pesannya kami harus ke 3T dulu,” kata Nanik.

        BGN juga menyiapkan sejumlah langkah pembenahan lain sebagai bagian dari reformasi pelaksanaan MBG. Di antaranya moratorium sementara pembangunan dapur baru, evaluasi dapur yang sudah berjalan, serta perbaikan sistem distribusi agar lebih efisien dan tepat sasaran.

        Menurut Nanik, perubahan ini bukan sekadar perluasan program, melainkan pergeseran strategi agar manfaat gizi benar-benar menyentuh kelompok yang paling membutuhkan.

        Di sisi lain, ia menegaskan bahwa sekolah-sekolah di wilayah yang dinilai sudah mampu secara ekonomi tidak lagi menjadi prioritas utama dalam skema baru ini. Pemerintah akan melakukan evaluasi lebih ketat terhadap sasaran penerima manfaat.

        Baca Juga: Saatnya Reformasi Kelembagaan BGN dan Tata Kelola MBG

        “Nah, lalu refocusing. Misalnya nanti akan kita juga kalau ada sekolah-sekolah yang mahal gitu kan kita tanya apakah masih perlu MBG? Nah ini yang kita alihkan ke 3T,” ujarnya.

        Kebijakan ini juga didukung oleh pendekatan berbasis ilmu gizi yang menekankan pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Intervensi sejak masa kandungan dinilai lebih efektif dibandingkan penanganan setelah anak memasuki usia sekolah.

        BGN berharap perubahan arah kebijakan ini mampu meningkatkan efektivitas program MBG sekaligus mempersempit kesenjangan akses gizi antara wilayah perkotaan dan daerah tertinggal.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: