Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekspor Manufaktur Ditargetkan Naik 50 Persen, Ini Strategi Kemenperin

        Ekspor Manufaktur Ditargetkan Naik 50 Persen, Ini Strategi Kemenperin Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan peningkatan porsi ekspor produk manufaktur Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Jika saat ini komposisi penjualan produk manufaktur masih didominasi pasar domestik dengan perbandingan sekitar 80 persen untuk dalam negeri dan 20 persen untuk ekspor, pemerintah ingin mendorong komposisi tersebut menjadi 70 persen domestik dan 30 persen ekspor.

        Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi memperkuat daya saing industri nasional sekaligus memperluas penetrasi produk manufaktur Indonesia di pasar global.

        "Pasar domestik tetap menjadi kekuatan utama industri nasional. Namun ke depan, kita perlu memperkuat industri yang berorientasi ekspor agar penetrasi produk manufaktur Indonesia di pasar global semakin besar. Targetnya, komposisi yang saat ini sekitar 20 persen ekspor dan 80 persen domestik dapat meningkat menjadi 30 persen ekspor dan 70 persen domestik, tanpa mengurangi kemampuan industri memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri," kata Agus dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta.

        Menurut Agus, peningkatan orientasi ekspor perlu dilakukan secara seimbang dengan menjaga pasar domestik yang selama ini menjadi fondasi pertumbuhan sektor manufaktur nasional. Karena itu, pemerintah terus menyiapkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan daya saing industri sekaligus melindungi pasar dalam negeri.

        Upaya tersebut dilakukan melalui pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, pengendalian impor secara terukur, hingga penguatan instrumen perlindungan industri nasional. Langkah ini diharapkan mampu mendorong industri manufaktur Indonesia lebih kompetitif dalam menghadapi persaingan global.

        Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor industri pengolahan masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Pada triwulan I 2026, sektor ini tumbuh 5,04 persen dan menyumbang 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan nilai mencapai Rp1.179,62 triliun.

        Baca Juga: Kemenperin Bidik Pasar Haji dan Umrah untuk Perluas Penjualan Batik Nasional

        Baca Juga: Dukung Hilirisasi Daerah, Kemenperin Dekatkan Layanan Sertifikasi ke Pelaku Usaha

        Dari sisi investasi, industri pengolahan juga mencatat realisasi investasi sebesar Rp182,04 triliun atau setara 36,49 persen dari total investasi nasional. Sementara itu, nilai ekspor produk industri pengolahan pada periode Januari hingga April 2026 mencapai USD75,57 miliar, berkontribusi 82,01 persen terhadap total ekspor Indonesia.

        Selain mendorong ekspor, Kemenperin juga menilai implementasi Local Currency Settlement (LCS) menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ketahanan industri nasional. Agus mengatakan, kebijakan tersebut telah direkomendasikan Kemenperin sejak 2023, jauh sebelum tekanan terhadap nilai tukar rupiah terjadi.

        "Pemanfaatan Local Currency Settlement sebenarnya telah kami rekomendasikan sejak tahun 2023. Jauh sebelum terjadi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah seperti yang kita hadapi saat ini. Perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional menjadi instrumen penting untuk mengurangi risiko nilai tukar sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi bagi pelaku industri nasional," ujarnya.

        Ke depan, Kemenperin optimistis target kinerja sektor industri pada 2026 dapat tercapai melalui berbagai program prioritas, mulai dari hilirisasi industri, penguatan industri kecil dan menengah (IKM), pembangunan sumber daya manusia industri, transformasi industri hijau, hingga peningkatan produktivitas berbasis inovasi dan teknologi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: