Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG dan Rupiah Menguat, DPR Soroti Kepercayaan Investor di Tengah Sentimen Global

        IHSG dan Rupiah Menguat, DPR Soroti Kepercayaan Investor di Tengah Sentimen Global Kredit Foto: Uswah Hasanah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah dinilai bukan sekadar pergerakan teknikal pasar, tetapi menjadi sinyal penting meningkatnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.

        Kondisi ini disebut masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada harga energi dunia.

        Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron menilai penguatan dua indikator ekonomi tersebut perlu dijaga agar dapat memberikan efek berkelanjutan bagi perekonomian nasional.

        Ia menekankan bahwa stabilitas politik dan soliditas nasional menjadi faktor utama yang menentukan tingkat kepercayaan investor.

        “Semakin kita bersatu, semakin kita solid, semakin kita menunjukkan kekuatan, kemampuan, persatuan itu akan semakin menunjukkan trust dari investor,” kata Herman di Kota Bogor, Jumat (19/6/2026).

        Menurut Herman, tren pergerakan IHSG dan rupiah dalam beberapa waktu terakhir sempat menunjukkan volatilitas yang cukup mengkhawatirkan.

        Karena itu, ia menilai diperlukan dukungan publik terhadap berbagai langkah kebijakan yang dijalankan pemerintah agar stabilitas pasar tetap terjaga.

        Ia juga berharap investor yang sebelumnya menarik dana dari Indonesia dapat kembali masuk ke pasar domestik.

        Selain faktor domestik, Herman menyoroti peran kondisi global dalam memengaruhi stabilitas ekonomi nasional, terutama konflik di Timur Tengah.

        Menurutnya, fluktuasi harga minyak dunia memiliki dampak langsung terhadap nilai tukar rupiah dan beban subsidi energi di dalam negeri.

        Ia menambahkan bahwa penurunan harga minyak berpotensi menekan harga bahan bakar minyak (BBM) sekaligus mengurangi tekanan fiskal negara.

        Dari sisi kebijakan moneter, Herman menilai kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen merupakan langkah yang cukup efektif dalam menjaga stabilitas ekonomi.

        Kebijakan tersebut diharapkan mampu menahan tekanan inflasi sekaligus menjaga daya tarik investasi di pasar keuangan Indonesia.

        Sementara itu, data perdagangan Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG ditutup menguat tipis pada perdagangan Jumat sore.

        Baca Juga: DBS Treasures Melejit 289%, Investor Tajir Borong Emas Saat IHSG Terpuruk

        IHSG naik 4,80 poin atau 0,08 persen ke level 6.177,14, meskipun indeks saham unggulan LQ45 justru melemah 1,22 persen ke posisi 609,40.

        Dengan kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, pelaku pasar masih cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi investasi.

        Namun, penguatan rupiah dan IHSG tetap dipandang sebagai indikasi awal bahwa stabilitas ekonomi Indonesia berada pada jalur yang relatif positif di tengah tekanan eksternal.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: