Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Rebound 1,56%, Ini Daftar Saham yang Moncer dan Jadi Penggerak Penguatan

IHSG Rebound 1,56%, Ini Daftar Saham yang Moncer dan Jadi Penggerak Penguatan Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan ditutup menguat 1,56% atau 94,97 poin ke level 6.186,36 pada perdagangan Kamis (30/7/2026). Penguatan indeks didorong oleh dominasi saham yang naik, disertai tingginya aktivitas transaksi dan penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 511 saham ditutup menguat, sementara 171 saham melemah dan 281 saham bergerak stagnan. IHSG sempat dibuka di level 6.110,28 dan turun hingga 6.106,54 pada awal perdagangan sebelum berbalik menguat hingga penutupan.

Aktivitas perdagangan juga berlangsung ramai. Nilai transaksi mencapai Rp12,43 triliun dengan volume perdagangan 25,37 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1,729 juta kali. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat sekitar Rp10.812 triliun.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penopang utama kenaikan indeks. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) membukukan nilai transaksi terbesar di pasar reguler mencapai Rp1,15 triliun, diikuti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp974,77 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp656,28 miliar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp419,10 miliar, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp350,97 miliar.

Dari sisi volume perdagangan, saham BUMI menjadi yang paling aktif dengan volume mencapai 21,82 juta lot. Posisi berikutnya ditempati PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebanyak 21,07 juta lot, PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) 16,72 juta lot, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) 15,32 juta lot, serta PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) sebanyak 9,65 juta lot.

Di kelompok saham penguat (top gainers), PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) memimpin setelah melonjak 34,65% ke level 171. Disusul PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) yang naik 34,62%, PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA) menguat 25%, PT Krida Jaringan Nusantara Tbk (KJEN) naik 22,22%, PT Charnic Capital Tbk (NICK) bertambah 21,67%, serta PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) yang melesat 20,80%.

Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan terbesar dipimpin PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) yang turun 8,70%, diikuti PT Mineral Sumberdaya Mandiri Tbk (AKSI) yang melemah 6,56%, PT Falmaco Nonwoven Industri Tbk (FLMC) turun 6,25%, PT Jaya Trishindo Tbk (HELI) terkoreksi 6,22%, dan PT Mega Perintis Tbk (ZONE) yang turun 6,21%.

Meski IHSG berhasil rebound, pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen teknikal. Dalam riset hariannya, Phintraco Sekuritas menyebut histogram Moving Average Convergence Divergence (MACD) terus menyempit dan berpotensi membentuk death cross yang mengindikasikan pelemahan tren. Namun, IHSG masih bertahan di atas garis rata-rata pergerakan MA20 dan MA50 sehingga peluang bertahan di area support dinilai masih terbuka.

“IHSG diperkirakan akan menguji level psikologis 6.000 di tengah berbagai sentimen eksternal, domestik, dan faktor teknikal,” tulis Phintraco Sekuritas.

Baca Juga: IHSG Naik 0,53% ke Level 6.123 pada Awal Perdagangan

Baca Juga: IHSG Tinggalkan Level 6.100 Usai Melemah 0.64%

Selain sentimen teknikal, pelaku pasar juga mencermati hasil evaluasi mayor Indeks IDXBUMN20 yang diumumkan BEI dan berlaku mulai 5 Agustus 2026 hingga 2 Februari 2027.

Tidak ada perubahan komposisi saham dalam indeks tersebut, namun BEI melakukan penyesuaian bobot masing-masing emiten. Sejumlah saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM mengalami penurunan bobot setelah diterapkannya batas maksimal 15%. Sebaliknya, bobot saham ANTM, PGAS, MTEL, BRIS, dan PTBA meningkat.

Di sisi regulasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) juga terus mempercepat reformasi pasar modal menjelang tinjauan indeks MSCI pada November 2026. Regulator menargetkan Peraturan OJK (POJK) mengenai demutualisasi Bursa Efek Indonesia dapat diterbitkan pada pekan kedua September 2026.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri