Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Telur Turun dan Gula Stabil, UMKM Kuliner Dapat Angin Segar

        Harga Telur Turun dan Gula Stabil, UMKM Kuliner Dapat Angin Segar Kredit Foto: Antara/Andri Saputra
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kabar gembira bagi pelaku UMKM kuliner datang dari sektor komoditas telur dan gula. Telur ayam ras menorehkan penurunan, sementara harga gula amat stabil.

        Memasuki awal pekan ini, tepatnya pada Senin (22/7/2026), para pengusaha roti dan kue skala rumah tangga dapat diasumsikan mendapat kelonggaran beban operasional. Dua bahan baku penentu tekstur dan rasa hidangan manis tersebut menunjukkan grafik harga yang bersahabat.

        Berdasarkan informasi harian yang tercantum dalam Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, harga telur ayam ras segar mengalami penurunan tipis sebesar 0,5 persen. Komoditas padat gizi tersebut kini dibanderol pada level Rp29.950 per kilogram di pasar tradisional.

        Laman Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan memperkuat sentimen positif tersebut dengan mencatat tren stabil pada komoditas produk unggas. Telur ayam ras tercatat, berdasarkan SP2KP, berada di angka Rp27.543 per kilogram.

        Baca Juga: Harga Ayam dan Telur Jatuh, Amran Usulkan Konsumsi Telur dan Ayam MBG Jadi 3 Kali Seminggu

        Baca Juga: Harga Terus Anjlok, Pemerintah Siapkan Bantuan Pangan Berupa Telur

        Lebih lanjut di laman SP2KP, untuk harga gula pasir curah terpantau nyaris tidak bergerak di angka Rp18.253 per kilogram dibandingkan posisi penutupan pekan lalu. Sementara itu, gula pasir lokal di laman PIHPS justru mencatatkan harga yang tak jauh berbeda yakni Rp19.100 per kilogram.

        Stabilitas pada sektor telur dan gula ini diharapkan mampu menjaga margin keuntungan para pelaku usaha mikro. Pemerintah daerah terus diminta melakukan pengawasan agar tidak terjadi penimbunan yang dapat merusak keseimbangan pasar.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Muhammad Farhan Shatry
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: