Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.987 per dolar AS, semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS yang juga menekan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Ringgit Malaysia tercatat melemah sekitar 0,29%, diikuti rupee India yang turun 0,27%, peso Filipina melemah 0,11%, dan dolar Taiwan terkoreksi tipis 0,06%.
Di tengah tekanan tersebut, hanya beberapa mata uang Asia yang masih mampu menguat terhadap dolar AS. Baht Thailand menguat sekitar 0,38%, won Korea Selatan menguat 0,39%, sementara yuan China menguat tipis sekitar 0,06%.
Tekanan terhadap dolar AS juga terjadi di kawasan Eropa. Mayoritas mata uang utama di kawasan tersebut melemah, dengan euro turun sekitar 0,13% terhadap dolar AS. Pound sterling juga terkoreksi 0,07%.
Pergerakan tersebut mencerminkan penguatan dolar AS yang berlangsung secara luas terhadap mata uang utama dunia.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Level Rp17.943 per USD
Baca Juga: Rupiah Terus Melemah, Perusahaan Asuransi Mulai Hitung Ulang Premi
Penguatan dolar AS didorong oleh ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), masih akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi guna menekan inflasi.
Prospek suku bunga yang tetap tinggi mendorong investor meningkatkan kepemilikan aset berdenominasi dolar AS, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah dan sejumlah mata uang di Asia maupun Eropa
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: