Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Saat Pemakaman Ali Khamenei, Amerika Serang Area Dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Milik Iran

        Saat Pemakaman Ali Khamenei, Amerika Serang Area Dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Milik Iran Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara ke Iran. Hal itu dilakukannya di tengah berlangsungnya prosesi pemakaman Mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

        Dikutip dari The Guardian, Jumat (10/7), di saat ribuan pelayat berkumpul untuk mengantarkan pemimpin tersebut ke peristirahatan terakhir, serangan terbaru dilaporkan menyasar sejumlah lokasi strategis, termasuk area di sekitar satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil milik Iran.

        Baca Juga: Nasib Amerika Dipermalukan Belgia 4-1 di Piala Dunia Jadi Bahan Candaan Eropa di KTT NATO

        Wakil Gubernur Bushehr, Ehsan Jahanian mengatakan beberapa titik di provinsi tersebut menjadi sasaran serangan. Salah satunya merupakan lokasi berdirinya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil yang selama ini mendapat perhatian khusus dari komunitas internasional.

        "Beberapa wilayah kami menjadi sasaran hari ini, termasuk area di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir, sebuah pangkalan militer serta dermaga perikanan di bagian selatan provinsi," ujarnya.

        Menurut otoritas setempat, hingga laporan awal disampaikan belum ada informasi mengenai korban jiwa akibat serangan tersebut.

        Serangan berlangsung ketika adanya rangkaian pemakaman dari Ayatollah Ali Khamenei diĀ  Mashhad. Peti jenazahnya dikawal pesawat tempur di tengah pengamanan ketat, sementara ribuan warga memadati lokasi pemakaman dengan membawa spanduk yang berisi seruan balas dendam terhadap Amerika Serikat.

        Di sisi lain, Amerika Serikat menyatakan telah menyerang sekitar 90 target di Iran. Menurut Washington, operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan musuh mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

        Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua negara awal bulan lalu telah berakhir setelah adanya serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.

        "Ini adalah balasan atas pengeboman kapal oleh Iran. Jika itu terjadi lagi, responsnya akan jauh lebih buruk!" ungkap Trump.

        Iran sebagai respons meluncurkan serangan ke sejumlah target yang terkait dengan Amerika Serikat di Kuwait, Qatar, dan Pangkalan Militer Azraq di Yordania. Garda Revolusi Iran mengklaim telah menembakkan 10 rudal balistik ke pangkalan tersebut, meski belum ada laporan kerusakan.

        Pemerintah Iran juga menuduh musuhnya melakukan kejahatan perang setelah serangan disebut turut menyasar dua jembatan penting di wilayah timur yang menjadi jalur perdagangan utama menuju China.

        Situasi ini meningkatkan kekhawatiran internasional terhadap keberlangsungan proses negosiasi antara Washington dan Teheran. Padahal, pembicaraan untuk mencapai kesepakatan permanen sedianya dijadwalkan dimulai setelah berakhirnya rangkaian tujuh hari pemakaman dari Ayatollah Ali Khamenei.

        Baca Juga: Kasus Ijazah Jokowi Ternyata Bermula dari Cuitan Kader PSI

        Adapun Iran kembali menegaskan bahwa jalur pelayaran tetap menjadi instrumen strategis dalam negosiasi dengan Amerika Serikat. Sementara Washington menilai operasi militer diperlukan untuk menjaga kebebasan navigasi di salah satu jalur energi paling penting di dunia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: