Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Tiket Piala Dunia 2026 Anjlok Usai AS dan Meksiko Tersingkir, Bisnis Ikut Terpukul

        Harga Tiket Piala Dunia 2026 Anjlok Usai AS dan Meksiko Tersingkir, Bisnis Ikut Terpukul Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Tersingkirnya Amerika Serikat dan Meksiko dari Piala Dunia 2026 tak hanya mengubah peta persaingan di lapangan. Hasil tersebut juga memukul sektor bisnis turnamen, mulai dari harga tiket pertandingan yang anjlok hingga pendapatan restoran olahraga yang diperkirakan merosot tajam.

        Laporan CNN menyebut harga tiket perempat final antara Spanyol dan Belgia turun drastis setelah Amerika Serikat gagal melaju ke babak delapan besar. Penurunan serupa juga terjadi pada laga Inggris melawan Meksiko setelah El Tri tersingkir lebih awal.

        Platform penjualan tiket sekunder TickPick mencatat harga tiket termurah pertandingan Spanyol versus Belgia turun hingga 65 persen. Sebelum Amerika Serikat tersingkir, tiket termurah sempat berada di kisaran 3.200 dolar AS atau sekitar Rp51,8 juta, namun kini hanya sekitar 1.100 dolar AS atau sekitar Rp17,8 juta.

        Sementara itu, kekalahan Meksiko dari Inggris juga membuat harga tiket pertandingan berikutnya ikut merosot sekitar 45 persen. Harga tiket termurah yang sebelumnya hampir menyentuh 4.000 dolar AS atau sekitar Rp64,8 juta kini turun menjadi sekitar 2.000 dolar AS atau sekitar Rp32,4 juta.

        Co-CEO TickPick, Brett Goldberg, menjelaskan bahwa harga tiket sebelumnya dipasang dengan asumsi Amerika Serikat dan Meksiko mampu melangkah ke babak perempat final.

        "Harga tiket perempat final ditetapkan dengan ekspektasi bahwa Meksiko dan Amerika Serikat akan lolos. Ketika keduanya kalah secara beruntun di babak 16 besar, permintaan untuk pertandingan perempat final mereka langsung turun secara signifikan," ujar Goldberg.

        Bukan hanya industri penjualan tiket yang terkena dampaknya. Restoran olahraga Tom's Watch Bar yang memiliki 18 cabang di Amerika Serikat juga memperkirakan penurunan pendapatan cukup besar setelah dua tim tuan rumah tersebut gagal melaju lebih jauh.

        Co-Founder sekaligus Co-CEO Tom's Watch Bar, Brooks Schaden, mengungkapkan bahwa pertandingan Amerika Serikat dan Meksiko sebelumnya menjadi penyumbang lonjakan pendapatan terbesar bagi jaringan restorannya.

        "Pertandingan yang melibatkan Meksiko dan Amerika Serikat memberikan peningkatan bisnis yang sangat besar bagi kami," kata Schaden.

        Dia memperkirakan pendapatan restoran saat hari pertandingan Piala Dunia akan turun hingga 50 persen setelah kedua negara tersebut tersingkir dari turnamen.

        Menurut Schaden, suporter Meksiko justru memberikan kontribusi ekonomi lebih besar dibandingkan pendukung Amerika Serikat. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu dan uang saat menyaksikan pertandingan di restoran.

        "Sejujurnya, harga bukanlah persoalan bagi mereka," ujar Schaden.

        Meski demikian, Schaden masih optimistis atmosfer Piala Dunia tetap memberikan dampak positif. Ia memperkirakan pendapatan restoran selama sisa turnamen masih sekitar 25 persen lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasa tanpa pertandingan Piala Dunia.

        Baca Juga: Ousmane Dembele Ukir Sejarah Baru, Masuk Klub Elite Timnas Prancis di Piala Dunia 2026

        Di sisi lain, industri bir justru masih menikmati tren positif sepanjang penyelenggaraan turnamen. Data Beer Institute menunjukkan penjualan bir di bar dan restoran naik 6,4 persen dalam empat pekan terakhir.

        Kenaikan tersebut bahkan mencapai 14 persen di kota-kota tuan rumah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Massachusetts menjadi wilayah dengan pertumbuhan penjualan tertinggi sebesar 23 persen, disusul kawasan metropolitan New York sebesar 19 persen dan California sebesar 14 persen.

        Chief Economist Beer Institute, Andrew Heritage, menilai antusiasme suporter terhadap Piala Dunia tetap tinggi meski tim tuan rumah telah berguguran.

        "Perjalanan tim Amerika Serikat memang membantu membangun antusiasme, tetapi data menunjukkan bahwa turnamen ini jauh lebih besar daripada satu tim saja. Kami memperkirakan momentum tersebut akan terus berlanjut hingga partai final karena para suporter tetap memilih berkumpul sambil menikmati bir bersama," ujar Heritage.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: