Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rimini Street Ungkap Alasan Mengapa 90% Anggaran TI Gagal Dipakai untuk Inovasi

        Rimini Street Ungkap Alasan Mengapa 90% Anggaran TI Gagal Dipakai untuk Inovasi Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        CEO Rimini Street, Seth Ravin, mengatakan tantangan perusahaan saat ini bukan lagi memilih antara efisiensi dan inovasi, melainkan mencari cara agar transformasi digital tetap berjalan tanpa membebani belanja TI.

        Menurutnya, perusahaan dituntut mempercepat penerapan AI, strategi cloud-first, otomatisasi, hingga keamanan siber di tengah kenaikan biaya operasional dan ketidakpastian ekonomi.

        "Ketika kondisi ekonomi menantang, fokus perusahaan seharusnya bukan mengurangi inovasi, melainkan mencari cara agar inovasi dapat didanai secara lebih efisien," ujar Seth dalam keterangan resmi, Kamis (16/7/2026).

        Ia menjelaskan, pengelolaan investasi teknologi kini harus lebih berorientasi pada hasil. Karena itu, kolaborasi antara Chief Information Officer (CIO) dan Chief Financial Officer (CFO) menjadi penting agar setiap pengeluaran TI mampu memberikan manfaat nyata terhadap produktivitas, efisiensi, dan pertumbuhan bisnis.

        Sebagai gambaran, Seth mengungkapkan bahwa sebagian perusahaan masih mengalokasikan sekitar 90% anggaran TI untuk menjaga operasional sehari-hari, seperti pemeliharaan aplikasi enterprise, pembaruan perangkat lunak, migrasi, dan peningkatan versi sistem. Akibatnya, kurang dari 10% anggaran yang tersisa untuk mendukung inovasi.

        "Tujuannya bukan sekadar memangkas biaya, tetapi mengalihkan investasi menuju teknologi yang mampu menciptakan nilai tambah bagi bisnis," katanya.

        Selain itu, Rimini Street juga menilai bahwa perusahaan tidak perlu melakukan penggantian sistem enterprise resource planning (ERP) secara menyeluruh untuk mengadopsi AI. Seth menilai, sistem ERP yang telah berjalan masih dapat dioptimalkan dengan menambahkan kapabilitas AI, otomatisasi, dan analitik sehingga penghematan biaya dapat dilakukan untuk investasi strategis.

        "AI tidak begitu saja menggantikan ERP. Sistem tersebut mengelola proses bisnis yang sangat kompleks dan harus memenuhi standar keamanan, kepatuhan, serta integrasi yang tinggi," ujarnya.

        Selain teknologi, Seth menekankan pentingnya investasi pada pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, perusahaan membutuhkan talenta yang mampu membangun, mengelola, dan mengawasi sistem berbasis AI secara bertanggung jawab agar transformasi digital dapat memberikan nilai tambah yang berkelanjutan.

        "Perusahaan yang unggul bukanlah yang paling banyak memangkas pengeluaran TI atau memiliki anggaran teknologi terbesar, melainkan yang mampu mengoptimalkan investasinya sehingga mempunyai ruang lebih besar untuk terus berinovasi, mengembangkan talenta, dan tumbuh secara berkelanjutan," tutup Seth.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: