Lupakan Dulu Rivalitas, Toyota Ajak Pabrikan Otomotif Jepang Bersatu Hadapi Gempuran China
Kredit Foto: Ist
Persaingan industri otomotif global yang semakin ketat, terutama akibat pesatnya ekspansi produsen kendaraan listrik asal China. Rupanya, hal ini mendorong pabrikan Jepang untuk mempertimbangkan strategi baru. Alih-alih terus bersaing satu sama lain, mereka didorong untuk memperkuat kolaborasi demi menjaga daya saing.
Seruan tersebut datang dari Wakil Ketua Toyota sekaligus Ketua Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA), Koji Sato. Menurutnya, produsen otomotif Jepang perlu mulai membangun kerja sama sejak tahap awal pengembangan kendaraan.
Sato menilai kolaborasi bukan berarti menghilangkan identitas masing-masing merek. Kerja sama dapat difokuskan pada komponen-komponen dasar yang tidak menjadi pembeda produk di mata konsumen.
"Automakers seperti Nissan dan Honda beralih dari kompetisi ke proses konstruksi yang lebih kolaboratif, dimulai dari dasar," ujar Sato, dikutip dari Carscoops, Senin (20/7/2026).
Komponen seperti wiring harness, sistem pendingin, hingga berbagai jenis pengencang (fasteners) dinilai bisa dikembangkan bersama. Dengan begitu, setiap perusahaan dapat mengurangi biaya pengembangan komponen yang serupa.
Baca Juga: GIIAS 2026 Siap Digelar, Lebih dari 60 Merek Otomotif Ramaikan Pameran
Anggaran riset dan pengembangan (R&D) yang selama ini digunakan untuk membuat komponen dasar dapat dialihkan ke bidang yang lebih strategis, seperti pengembangan perangkat lunak, teknologi elektrifikasi, sistem berkendara cerdas, hingga inovasi kendaraan masa depan.
Bukan Hal Baru di Jepang
Menurut Sato, praktik berbagi komponen sebenarnya sudah lama diterapkan di industri otomotif Jepang.
Salah satu contohnya terlihat pada hubungan Mitsubishi dan Subaru. Meski keduanya dikenal sebagai rival sengit di ajang reli dunia pada era 1990-an hingga awal 2000-an, Subaru tetap menggunakan sejumlah komponen yang dipasok Mitsubishi untuk beberapa model kendaraannya.
Kolaborasi semacam itu menunjukkan bahwa persaingan di pasar tidak selalu menutup peluang kerja sama di balik layar.
Sato juga mengingatkan bahwa konsolidasi industri pernah menjadi salah satu faktor penting yang membawa Jepang menjadi kekuatan otomotif dunia.
Pada dekade 1960-an hingga 1970-an, pemerintah Jepang mendorong produsen otomotif yang saat itu masih terfragmentasi untuk memperkuat kerja sama dan membentuk kelompok industri yang lebih besar. Langkah tersebut berhasil meningkatkan efisiensi produksi sekaligus kualitas kendaraan, hingga akhirnya merek-merek Jepang mampu bersaing di pasar global.
Menurutnya, pendekatan serupa masih relevan diterapkan saat ini ketika industri menghadapi tantangan baru dari produsen China.
Untungkan Pabrikan Besar dan Kecil
Model kolaborasi juga dinilai dapat memberikan manfaat bagi seluruh produsen, baik yang berskala besar maupun kecil.
Bagi Nissan dan Honda yang tengah menghadapi tekanan pasar, berbagi pengembangan komponen bisa membantu menekan biaya produksi. Sementara bagi Mazda dan Subaru, efisiensi tersebut memungkinkan sumber daya difokuskan untuk mengembangkan model-model ikonik mereka.
Mazda, misalnya, dapat mengalokasikan lebih banyak investasi untuk generasi terbaru MX-5 Miata, sedangkan Subaru memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan kembali lini performa WRX STI.
Baca Juga: Gaikindo Beberkan Berbagai Insentif Pemerintah untuk Industri Otomotif Jepang
Sejarah juga menunjukkan sejumlah kolaborasi dan akuisisi di Jepang menghasilkan produk yang sukses. Akuisisi Hino oleh Toyota memperkuat pengembangan kendaraan niaga dan pikap seperti Hilux, sementara bergabungnya Prince Motor dengan Nissan melahirkan salah satu nama legendaris di dunia otomotif, yakni Skyline GT-R.
Di tengah semakin agresifnya ekspansi produsen mobil China di pasar global, Sato berharap semangat kolaborasi antarpabrikan Jepang kembali menjadi kunci untuk mempertahankan daya saing industri otomotif Negeri Sakura.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: