- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Proyek Gas Raksasa North Hub Mulai Dibangun, Investasi Tembus US$11,8 Miliar
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Proyek Strategis Nasional (PSN) North Hub Development Project Selat Makassar resmi memasuki fase konstruksi dengan dimulainya seremoni First Steel Cut atau pemotongan baja perdana Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) Bahtera Haluan Lestari, di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) KESDM Laode Sulaeman, dan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto dijadwalkan hadir dalam peresmian tersebut..
Tahap ini menjadi penanda dimulainya pembangunan fasilitas produksi terapung yang akan mendukung pengembangan Lapangan Geng North dan Gehem di Cekungan Kutai, Selat Makassar, lepas pantai Kalimantan Timur.
North Hub merupakan proyek pengembangan gas laut dalam yang mengintegrasikan Lapangan Geng North di Wilayah Kerja North Ganal dengan Lapangan Gehem di Wilayah Kerja Ganal dan Rapak.
Proyek ini sebelumnya dikembangkan oleh Eni sebelum kemudian dilanjutkan oleh Searah, perusahaan hulu minyak dan gas yang dibentuk melalui kemitraan strategis antara Eni S.p.A. dan PETRONAS.
Pengembangan proyek tersebut memperoleh persetujuan Plan of Development (PoD) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada Agustus 2024 sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional sektor hulu migas.
Persetujuan itu diterbitkan sekitar 10 bulan setelah ditemukannya cadangan raksasa (giant discovery) Geng North pada Oktober 2023, menjadikannya salah satu pengembangan lapangan gas tercepat di Indonesia.
Berdasarkan informasi proyek, total nilai investasi North Hub mencapai US$11,8 miliar, termasuk investasi pembangunan FPSO sebesar US$2,9 miliar. Proyek ini juga diproyeksikan menciptakan lebih dari 8.000 lapangan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ruang lingkup pengembangan meliputi pengeboran 16 sumur pengembangan, pembangunan sistem produksi bawah laut (subsea production system), pembangunan Floating Production, Storage and Offloading (FPSO), pembangunan sistem pemuatan kondensat lepas pantai (offshore condensate offloading system), pembangunan pipa penyalur gas berdiameter 32 inci, serta pembangunan Fasilitas Penerimaan Darat (Onshore Receiving Facilities) di Terminal Santan.
FPSO Bahtera Haluan Lestari dirancang memiliki kapasitas pengolahan gas sebesar 1 miliar kaki kubik standar per hari (1 Billion Standard Cubic Feet per Day/BSCFD) atau 1.000 juta kaki kubik standar per hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD).
Fasilitas tersebut juga mampu mengolah 80.000 barel kondensat per hari, memiliki kapasitas penyimpanan hingga 1,4 juta barel, serta bobot struktur (total FPSO weight) sekitar 145.800 ton.
Proyek ini dikembangkan di perairan dengan kedalaman mencapai lebih dari 2.000 meter dan dijadwalkan mulai berproduksi pada kuartal IV 2028.
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Energi, Pertamina Pacu Produksi Migas dari Regional 1 Zona 4
Baca Juga: SKK Migas Apresiasi First Gas Karamba, Produksi Ditargetkan Capai 7,35 MMscfd
Gas yang dihasilkan akan menjadi tambahan pasokan bagi sistem energi nasional sekaligus mendukung pemanfaatan infrastruktur gas dan LNG di Kalimantan Timur.
Pemerintah sebelumnya menyebut kawasan pengembangan gas di Selat Makassar memiliki sumber daya lebih dari 10 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/TCF), terdiri atas sekitar 4,1 TCF di Lapangan Geng North dan sekitar 6,3 TCF pada proyek Indonesia Deepwater Development (IDD).
Potensi tersebut menjadi salah satu penopang peningkatan produksi gas nasional dalam beberapa tahun mendatang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: