- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
SKK Migas Ungkap Formula Harga LNG dari North Hub Berkisar 12,5% Harga Minyak Dunia
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyebut harga LNG dari Proyek Pengembangan North Hub Selat Makassar akan menggunakan formula sekitar 12,5% dikalikan dengan harga minyak dunia.
Sementara itu, harga gas yang disalurkan melalui pipa akan menggunakan formula berbeda dengan mempertimbangkan harga produk dari industri pengguna.
“Nah harganya, alhamdulillah ini sudah sedikit di atas POV kita, kalau untuk LNG-nya itu sekitar rata-rata 12,5% dikali harga minyak dunia. Nah untuk gas pipanya juga demikian, itu disesuaikan dengan formula daripada produknya,” kata Djoko usai seremoni first steel cutting atau pemotongan baja perdana Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) Bahtera Haluan Lestari (BHL) di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026).
Djoko menjelaskan, harga gas pipa akan menggunakan mekanisme floor price yang dikombinasikan dengan harga produk industri pengguna.
“Jadi ada floor price plus harga daripada produk. Kalau itu pupuk, itu harganya harga jual pupuk, kalau metanol harga jual metanol, kemudian kalau amoniak harga jual amoniak. Itu untuk gas pipanya, jadi ada floor price plus formula,” ujarnya.
Proyek North Hub merupakan pengembangan gas laut dalam (deepwater) yang mengintegrasikan Lapangan Gas Geng North dan Gehem di Cekungan Kutai, Selat Makassar, lepas pantai Kalimantan Timur.
Pengembangan North Hub mencakup tiga wilayah kerja (WK), yakni WK North Ganal, WK Ganal, dan WK Rapak. Lapangan Geng North berada di WK North Ganal, sedangkan Lapangan Gehem mencakup area WK Ganal dan WK Rapak.
Proyek ini mengembangkan sumber daya gas sekitar 6,6 triliun kaki kubik (TCF) dari kedua lapangan tersebut. Pengembangan dilakukan melalui pembangunan fasilitas produksi laut dalam beserta infrastruktur pendukungnya.
Dari sisi pemanfaatan, Djoko mengatakan sekitar 72% alokasi gas North Hub diperuntukkan bagi kebutuhan domestik, sedangkan 28% sisanya untuk ekspor.
Dari alokasi domestik tersebut, sekitar 52% akan disalurkan melalui pipa untuk memenuhi kebutuhan industri di sekitar Kalimantan, termasuk sektor kelistrikan, industri pupuk, petrokimia, amoniak, dan metanol.
Kemudian sekitar 12% dialokasikan untuk pasokan LNG yang dapat disalurkan kepada PLN dan PGN. Sementara sekitar 8% disiapkan sebagai cadangan untuk mengantisipasi kebutuhan industri baru pada masa mendatang.
“Untuk alokasi total domestik nanti 72%. Untuk gas pipanya itu 52% untuk kebutuhan industri di sekitar Kalimantan, termasuk kelistrikan, ada industri pupuk, ada petrokimia, ada amoniak di sana, ada metanol,” kata Djoko.
“Untuk pasokan LNG, jadi LNG-nya bisa dikirim juga untuk PLN dan PGN itu sekitar 12%. Kemudian kita cadangan 8% dari alokasi 72% tadi,” lanjutnya.
Proyek North Hub ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal IV 2028. Untuk mendukung pengembangan tersebut, Searah, perusahaan joint venture Eni dan Petronas, mulai membangun FPSO Bahtera Haluan Lestari (BHL).
Pembangunan FPSO BHL ditandai dengan pelaksanaan first steel cutting di fasilitas Saipem Indonesia, Karimun, Kepulauan Riau. FPSO tersebut akan menjadi fasilitas produksi utama dalam pengembangan Lapangan Geng North dan Gehem.
Baca Juga: Proyek Gas Raksasa North Hub Mulai Dibangun, Investasi Tembus US$11,8 Miliar
Baca Juga: Masuki Fase Konstruksi, Proyek Gas North Hub Siap Beroperasi pada Kuartal IV-2028
Djoko menyebut total investasi Proyek North Hub mencapai hampir US$15 miliar, dengan nilai pembangunan FPSO sekitar US$3 miliar.
FPSO Bahtera Haluan Lestari dirancang memiliki kapasitas pengolahan gas sebesar 1 BSCFD atau 1.000 MMSCFD, kapasitas pengolahan kondensat mencapai 80.000 barel per hari, serta kapasitas penyimpanan sekitar 1,4 juta barel.
Fasilitas tersebut akan beroperasi di wilayah laut dalam dengan kedalaman sekitar 1.600 meter hingga 2.000 meter dan menjadi salah satu proyek pengembangan migas laut dalam terbesar di Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra