Prabowo Dulu Ramal Indonesia Bisa Hilang pada 2030, Kini Sebut Ekonomi RI Bakal Peringkat Keempat Dunia
Kredit Foto: BPMI
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai masa depan Indonesia kembali menjadi sorotan setelah ia menyampaikan optimisme bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terkuat keempat di dunia dalam 25 tahun mendatang. Ucapan itu berbanding terbalik dengan pernyataannya pada 2018 ketika masih menjadi Ketua Umum Partai Gerindra yang mengingatkan adanya skenario Indonesia "tidak ada lagi" pada 2030.
Saat berpidato dalam pelantikan 1.204 lulusan Sarjana Terapan Ilmu Pemerintahan (STIP) Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XXXIII Tahun 2026 di Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, Rabu (29/7/2026), Prabowo menyebut berbagai pakar dunia memprediksi Indonesia akan mengalami lompatan ekonomi dalam seperempat abad ke depan.
Menurutnya, Indonesia diproyeksikan menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia, melampaui sejumlah negara maju di Eropa Barat seperti Jerman, Prancis, dan Inggris.
Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan cita-cita besar Indonesia adalah menjadi negara maju, modern, mandiri, serta berdiri di atas kaki sendiri. Ia juga menegaskan Indonesia harus menjadi negara yang berdaulat, tidak didikte maupun ditipu bangsa lain.
Selain mengejar pertumbuhan ekonomi, Prabowo menyebut pembangunan harus berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Ia berharap seluruh warga memperoleh penghasilan yang layak, hidup aman, mendapatkan pendidikan dan layanan kesehatan yang memadai, serta memiliki tempat tinggal yang layak.
Ia juga mengingatkan para lulusan IPDN yang baru dilantik bahwa mereka akan menjadi bagian dari generasi yang menjalankan pemerintahan pada masa ketika Indonesia diproyeksikan mencapai posisi tersebut.
Pernyataan optimistis itu berbeda dengan sikap Prabowo delapan tahun lalu. Pada Maret 2018, ketika pemerintahan dipimpin Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Prabowo sempat mengutip skenario yang menyebut Indonesia bisa "tidak ada lagi" pada 2030.
Kala itu, Prabowo menjelaskan bahwa pernyataan tersebut bukan berasal dari prediksinya sendiri, melainkan dari scenario writing yang disusun pihak asing. Menurutnya, dokumen itu dibuat oleh para ahli intelijen strategis dan layak dipelajari sebagai bahan peringatan.
Baca Juga: FX Rudy Klaim Jokowi Pernah Bantu Membesarkan Gerindra saat Masih Jadi Wali Kota Solo
Prabowo mengatakan skenario tersebut dimaksudkan agar pemerintah tidak menganggap remeh berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia. Ia menyinggung tantangan seperti kemiskinan, kesenjangan ekonomi, penguasaan sumber daya alam, hingga persoalan lingkungan yang dinilai harus segera ditangani.
Berbeda dengan pernyataannya pada 2018 yang menekankan skenario ancaman terhadap masa depan Indonesia, dalam pidato di IPDN kali ini Prabowo justru menonjolkan proyeksi optimistis mengenai posisi Indonesia di kancah ekonomi global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: