Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Nilai permintaan emas global sepanjang semester I 2026 mencetak rekor baru sebesar US$380 miliar di tengah reli harga logam mulia.
Meski volume permintaan hanya naik 2% secara tahunan menjadi 2.522 ton, lonjakan harga emas mendorong nilai transaksi ke level tertinggi sepanjang sejarah pada paruh pertama tahun ini.
Laporan Gold Demand Trends Q2 2026 yang dirilis World Gold Council (WGC) menunjukkan total permintaan emas global pada kuartal II 2026 mencapai 1.249 ton, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, jika memasukkan permintaan over-the-counter (OTC), total permintaan meningkat 3% menjadi 1.361 ton.
WGC menyebut tingginya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik masih menjadi pendorong utama permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Di sisi lain, harga emas yang terus berada di level tinggi membuat nilai pasar emas meningkat signifikan meski pertumbuhan volume relatif terbatas.
Permintaan investasi menjadi penopang utama pasar emas pada kuartal II. Permintaan emas batangan dan koin mencapai 307 ton, sedangkan investasi melalui ETF emas masih mencatat arus masuk positif sepanjang semester pertama tahun ini, meski mengalami perlambatan pada kuartal II seiring stabilisasi harga emas.
Sementara itu, pembelian emas oleh bank sentral tetap berada pada level tinggi. Pada kuartal II 2026, bank sentral menambah cadangan emas sebesar 289 ton.
Baca Juga: BSI Perdagangkan 8,06 Ton Emas per Juni 2026
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10.000, Jadi Rp2.622.000 per Gram
Meski lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, WGC menilai pembelian tersebut masih mencerminkan strategi diversifikasi cadangan devisa di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Di sisi lain, tingginya harga emas masih menekan permintaan perhiasan di sejumlah negara. Namun, secara nilai, belanja perhiasan tetap meningkat karena didorong kenaikan harga logam mulia.
WGC memperkirakan permintaan emas hingga akhir 2026 masih akan ditopang oleh minat investasi, pembelian bank sentral, serta meningkatnya permintaan dari investor di kawasan Asia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: