Iran Bisa Tambah Tertekan, AS Beli Drone Pengintai Jarak Dekat Black Widow
Kredit Foto: Unsplash/Ian Usher
Amerika Serikat memperkuat modernisasi kemampuan pengintaian militernya dengan menguji pesawat nirawak Black Widow sebagai calon pengganti armada Teal 2. Langkah itu ditandai dengan penandatanganan kontrak senilai 2,49 juta dolar AS antara Angkatan Udara Amerika Serikat dan Teal Drones, anak perusahaan Red Cat Holdings, pada 30 Juli 2026.
Kontrak tersebut mencakup pengadaan drone pengintai jarak dekat Black Widow beserta dukungan pelatihan instruktur, baterai, suku cadang, hingga layanan pengiriman. Seluruh peralatan ditargetkan selesai dikirim paling lambat pada 24 Agustus 2026.
Proses evaluasi teknis dan operasional akan dipimpin oleh Air Force Security Forces Center (AFSFC). Pengujian dilakukan terhadap drone berbobot sekitar 2 kilogram itu untuk mendukung kebutuhan unit tugas aktif, Air National Guard, serta Air Force Reserve Defenders di berbagai wilayah operasi.
Black Widow dirancang untuk menjalankan misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian taktis. Drone tersebut mampu melaju hingga kecepatan 47 kilometer per jam, memiliki jangkauan operasi sejauh 8 kilometer, serta mampu bertahan di udara selama 50 menit dalam sekali penerbangan.
Produsen juga terus mengembangkan kemampuan Black Widow melalui integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dan sistem navigasi yang tetap dapat beroperasi tanpa bergantung pada sinyal GPS. Sebelumnya, drone ini juga telah terpilih dalam Program Pengintaian Jarak Dekat Angkatan Darat Amerika Serikat.
CEO Red Cat, Jeff Thompson, menyatakan pihaknya siap mendukung proses evaluasi yang dilakukan Angkatan Udara AS terhadap Black Widow.
"Kami bangga dapat mendukung Angkatan Udara U.S. di seluruh komponen aktif, Air National Guard, dan reservis saat AFSFC mengevaluasi Black Widow untuk misi di garda depan taktis," kata Thompson.
Baca Juga: Arab Saudi Tak Tahan, Kini Bantu AS Gempur Pasukan Pro Iran
Ia menilai pengujian tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian Departemen Perang Amerika Serikat terhadap penggunaan sistem nirawak buatan dalam negeri yang dinilai aman untuk mendukung operasi pertahanan dan keamanan nasional.
"Penilaian terhadap Black Widow ini mencerminkan peningkatan pengakuan di seluruh Departemen Perang bahwa sistem buatan Amerika yang aman sangat penting bagi operasi yang dijalankan organisasi pertahanan dan keamanan nasional kita setiap hari," ujarnya.
Pengumuman kontrak tersebut juga mendapat respons positif dari pasar. Saham Red Cat dengan kode RCAT tercatat menguat 2,51 persen ke level 6,94 dolar AS setelah kabar kerja sama itu dipublikasikan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: