Bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan Topang Kinerja Astra, Laba Grup Capai Rp12,5 Triliun pada Semester I 2026
Kredit Foto: Istimewa
PT Astra International Tbk berhasil menjaga kinerja bisnis otomotif dan jasa keuangan sepanjang semester I 2026. Di tengah tekanan pada sektor solusi pertambangan dan alat berat, kedua lini usaha tersebut menjadi penopang utama kinerja perseroan.
Laba bersih bisnis otomotif Astra tercatat naik 9 persen menjadi Rp5,9 triliun, sementara laba dari sektor jasa keuangan tumbuh 6 persen menjadi Rp4,6 triliun.
Presiden Direktur Astra, Rudy, mengatakan peningkatan kontribusi dari dua sektor tersebut menunjukkan daya tahan perusahaan dalam menghadapi dinamika bisnis global.
"Pada semester pertama 2026, Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan," ujar Rudy dalam keterangan tertulisnya.
Secara konsolidasi, Astra membukukan pendapatan bersih sebesar Rp157,9 triliun pada semester I 2026, turun 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp162,9 triliun.
Sementara itu, laba bersih tanpa memperhitungkan pos nonberulang tercatat sebesar Rp14,9 triliun atau turun 7 persen dari Rp16 triliun. Setelah memperhitungkan pos nonberulang senilai Rp2,4 triliun, laba bersih Grup Astra mencapai Rp12,5 triliun.
Kinerja positif sektor otomotif didorong oleh peningkatan penjualan kendaraan dan kontribusi kuat dari divisi komponen.
Penjualan mobil nasional sepanjang semester I 2026 meningkat 16 persen menjadi 437 ribu unit. Di saat yang sama, penjualan mobil Grup Astra tumbuh 10 persen dengan pangsa pasar tetap terjaga di angka 51 persen.
Di segmen roda dua, penjualan sepeda motor nasional naik 1 persen menjadi 3,1 juta unit. Penjualan sepeda motor Honda juga tumbuh 1 persen dengan pangsa pasar mencapai 77 persen.
Kontribusi laba bersih divisi komponen melonjak 23 persen menjadi Rp921 miliar, didukung peningkatan kinerja di seluruh segmen usaha.
Bisnis mobilitas Astra juga menunjukkan pertumbuhan. Penjualan mobil bekas meningkat 4 persen menjadi 15.700 unit, sedangkan jumlah kendaraan yang berada dalam kontrak bertambah 13 persen menjadi 29.200 unit.
Sektor jasa keuangan Astra mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 6 persen menjadi Rp4,6 triliun. Nilai pembiayaan baru dari divisi pembiayaan konsumen meningkat 10 persen menjadi Rp61,8 triliun, didorong pembiayaan otomotif dan pembiayaan multi-siklus.
Perusahaan pembiayaan sepeda motor menyumbang laba bersih Rp2,4 triliun atau naik 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, kontribusi laba bersih perusahaan pembiayaan mobil naik 6 persen menjadi Rp1,2 triliun. Pembiayaan alat berat juga mengalami pertumbuhan dengan nilai pembiayaan baru mencapai Rp8,1 triliun atau naik 1 persen, sedangkan kontribusi laba bersih meningkat 11 persen menjadi Rp130 miliar.
Dari sektor asuransi, Astra membukukan kenaikan laba bersih 7 persen menjadi Rp906 miliar, ditopang peningkatan pendapatan operasional dan hasil investasi.
Bisnis Pertambangan Tertekan
Di sisi lain, sektor solusi pertambangan dan alat berat mencatat penurunan signifikan. Laba bersih segmen ini turun 46 persen menjadi Rp2,7 triliun.
Penurunan tersebut dipicu minimnya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe serta pengurangan kuota produksi batu bara nasional melalui alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Tambang Emas Martabe diketahui sempat menghentikan operasional pada awal 2026 dan kembali beroperasi pada kuartal II tahun ini.
Sementara itu, Astra bersama PT United Tractors Tbk menyiapkan dana hingga Rp10 triliun untuk program pembelian kembali saham (share buyback).
Astra mengalokasikan dana maksimal Rp8 triliun untuk program buyback selama 12 bulan, yang telah mendapat persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026.
Sementara itu, United Tractors menyiapkan dana hingga Rp2 triliun untuk program buyback selama tiga bulan.
"Astra telah mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp8 triliun untuk 12 bulan ke depan. Selain itu, UT juga mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp2 triliun untuk tiga bulan ke depan," kata Rudy.
Sebelumnya, Astra dan United Tractors telah menyelesaikan program pembelian kembali saham senilai Rp7,4 triliun sejak November 2025 hingga Juni 2026.
Astra Fokus pada Tiga Bisnis Inti
Astra juga mulai menjalankan Strategy Roadmap baru yang diumumkan pada Mei 2026 dengan fokus pada tiga bisnis inti, yakni otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat.
Strategi tersebut dibangun di atas empat pilar utama, yaitu Focus, Clarity, Discipline, dan Commitment, serta menitikberatkan pada disiplin alokasi modal dan peningkatan imbal hasil bagi pemegang saham.
"Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus menjalankan strategi korporasi baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi, dan kekuatan neraca keuangan Astra," ujar Rudy.
Hingga 30 Juni 2026, Astra mencatat nilai aset bersih per saham sebesar Rp5.763, naik 1 persen dibandingkan periode sebelumnya. Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat 1 persen menjadi Rp230,1 triliun.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: