Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Infantino Mulai Kehilangan Dukungan, Inggris-Wales Kompak Berbalik Arah Jelang Pemilihan Presiden FIFA

        Infantino Mulai Kehilangan Dukungan, Inggris-Wales Kompak Berbalik Arah Jelang Pemilihan Presiden FIFA Kredit Foto: FIFA
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Krisis kepercayaan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino belum berakhir meski rencana pembentukan perusahaan komersial untuk mengelola Piala Dunia dan turnamen FIFA lainnya akhirnya dibatalkan.

        Ancaman boikot dari UEFA memang mereda setelah FIFA mengubah arah kebijakan tersebut. Namun, sejumlah asosiasi sepak bola Eropa tetap mempertanyakan kepemimpinan Infantino yang dinilai gagal dalam beberapa aspek penting.

        Badan sepak bola Eropa kini mengaku sedang membangun kembali hubungan dengan FIFA. Akan tetapi, dukungan terhadap Infantino untuk kembali memimpin organisasi sepak bola dunia mulai mengalami tekanan besar.

        Sejumlah federasi Eropa bahkan telah mengambil langkah tegas dengan menarik dukungan mereka terhadap Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA periode 2027-2031.

        Finlandia menjadi negara pertama yang secara terbuka menyatakan tidak lagi mendukung Infantino. Langkah tersebut kemudian diikuti Wales yang menilai kepemimpinan Infantino sudah kehilangan kepercayaan.

        "Kegagalan baru-baru ini dalam tata kelola, proses, kepemimpinan, nilai-nilai organisasi, pengelolaan pemangku kepentingan, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang baik telah membawa kami pada posisi bahwa Infantino telah kehilangan kepercayaan FAW untuk tetap memimpin sepak bola dunia," tulis Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW).

        Inggris kemudian mengikuti langkah tersebut dengan menyatakan tidak akan memberikan dukungan kepada Infantino dalam pemilihan mendatang.

        Situasi ini membuat posisi Infantino mulai mendapat sorotan, terutama karena sebelumnya pria asal Swiss itu diprediksi memiliki peluang besar untuk kembali terpilih sebagai Presiden FIFA.

        Jerman juga menjadi salah satu negara yang kemungkinan besar akan mengambil sikap serupa. Direktur DFB Andreas Rettig bahkan sebelumnya menyebut tindakan terbaru Infantino telah menyebabkan hilangnya kepercayaan yang sulit diperbaiki.

        "Kita membutuhkan budaya yang berbeda. Karena kepercayaan adalah mata uang yang paling sulit diperoleh," ujar Rettig.

        Menurut Rettig, sejumlah keputusan Infantino dalam beberapa tahun terakhir dianggap lebih banyak memperkuat posisi pribadinya dibanding kepentingan sepak bola secara keseluruhan.

        Kontroversi terbaru muncul setelah Infantino menggagas pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), perusahaan yang nantinya mengatur berbagai turnamen FIFA dengan dukungan investor swasta.

        Rencana tersebut juga membuka peluang penjualan sebagian saham Piala Dunia kepada investor. Kebijakan itu langsung mendapat kritik karena dianggap berpotensi mengubah arah pengelolaan kompetisi terbesar sepak bola dunia.

        Meski akhirnya dibatalkan, polemik tersebut telanjur memperburuk hubungan FIFA dengan sejumlah anggota UEFA.

        Pemilihan Presiden FIFA berikutnya akan berlangsung pada 18 Maret 2027 dalam Kongres FIFA ke-77 di Rabat, Maroko.

        Infantino masih berpeluang maju untuk periode terakhirnya selama empat tahun. Namun, ia membutuhkan dukungan minimal 106 suara dari total 211 anggota FIFA untuk kembali terpilih.

        UEFA saat ini memiliki 55 suara, sementara konfederasi lain seperti Afrika memiliki 54 suara, Asia 46 suara, Concacaf 35 suara, Oseania 11 suara, dan Conmebol 10 suara.

        Dengan sistem satu negara satu suara, pertarungan politik di tubuh FIFA diprediksi akan semakin sengit menjelang pemilihan.

        Tekanan terhadap Infantino bahkan bisa meningkat jika mayoritas anggota FIFA mulai mempertanyakan kepemimpinannya.

        Baca Juga: Trump Siap Lakukan Apa Saja agar Gianni Infantino Tetap Pimpin FIFA

        Jika 19 dari 37 anggota Dewan FIFA meminta rapat darurat dalam waktu tertentu, posisi Infantino dapat kembali dipertanyakan. Selain itu, Kongres Luar Biasa FIFA juga bisa digelar apabila mendapat dukungan dari sejumlah asosiasi anggota.

        Sebelumnya, Infantino memiliki peluang besar untuk mempertahankan kekuasaan karena pendapatan besar FIFA dari Piala Dunia mampu memperkuat dukungannya.

        Namun, kontroversi terkait rencana komersialisasi turnamen FIFA membuat sejumlah federasi mulai mengambil jarak.

        Kini, pemilihan Presiden FIFA 2027 bukan hanya menjadi pertarungan mempertahankan jabatan, tetapi juga ujian apakah Infantino masih mendapat kepercayaan dari dunia sepak bola.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: