Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BGN Larang Siswa Bawa Pulang Makan Bergizi Gratis, Guru Bakal Ikut Awasi Santap MBG di Sekolah

        BGN Larang Siswa Bawa Pulang Makan Bergizi Gratis, Guru Bakal Ikut Awasi Santap MBG di Sekolah Kredit Foto: Dokumentasi BGN
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Koordinator Bidang Pangan sekaligus Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan pemerintah akan memperketat pengawasan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah muncul dugaan keracunan di Jayapura, Papua. Salah satu langkah yang disiapkan adalah melibatkan guru untuk mengawasi siswa saat menyantap makanan di sekolah.

        Guru nantinya tidak hanya mendampingi, tetapi juga ikut makan bersama siswa. Kehadiran mereka diharapkan memastikan makanan dikonsumsi langsung di sekolah sekaligus memberikan edukasi gizi kepada para peserta didik.

        Sudaryono mengatakan pengawasan tersebut juga bertujuan mencegah siswa membawa pulang makanan MBG. Menurutnya, makanan dalam program ini tidak menggunakan bahan pengawet sehingga memiliki batas waktu konsumsi yang ketat.

        "Selain itu juga memberikan edukasi barang ini jangan kamu bawa pulang atau maksud saya. Ini penting untuk tidak dibawa pulang. Jangan sampai ini kan namanya MBG ini kan tidak ada pengawetnya. Jadi sudah pasti cepat kalau memang tidak sesuai apalagi daerahnya panas ini ada suhu dan lain-lain itu kan memicu ada perkembangbiakan bakteri," kata Sudaryono di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026).

        Ia menjelaskan rencana pelibatan guru tersebut telah disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti. Dengan adanya pengawasan langsung di sekolah, pemerintah berharap potensi risiko makanan rusak sebelum dikonsumsi dapat diminimalkan.

        Selain pengawasan di sekolah, pemerintah juga memperketat penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam proses penyediaan MBG. Sudaryono menegaskan seluruh tahapan, mulai dari memasak hingga makanan dikonsumsi siswa, harus memenuhi batas waktu yang telah ditetapkan.

        Menurut dia, makanan MBG sebaiknya dikonsumsi maksimal empat jam setelah selesai dimasak. Aturan ini diterapkan karena menu MBG dibuat tanpa bahan pengawet sehingga lebih rentan mengalami penurunan kualitas.

        "Jadi, semua pengiriman itu kapan matang sampai dengan dikonsumsi sesuai standar tidak boleh lebih dari 4 jam. Kalau tidak salah sehingga ada best before atau kalau di makanan itu kan ada sebaiknya dikonsumsi sebelum," ujarnya.

        Baca Juga: Viral Makalah Usulkan MBG Raih Nobel Perdamaian 2026, Pemerintah Langsung Investigasi

        Langkah tersebut diambil setelah hasil investigasi awal terhadap dugaan keracunan MBG di Jayapura. Sudaryono mengungkapkan makanan diduga dimasak terlalu cepat dibanding jadwal penyajian.

        Ia menjelaskan makanan mulai dimasak sekitar pukul 19.00 pada malam sebelumnya, tetapi baru disajikan kepada siswa sekitar pukul 11.00 siang keesokan harinya. Jarak waktu yang terlalu lama diduga memengaruhi kualitas makanan.

        "Ini kita ngomongin yang Papua ya, jadi masaknya kecepatan. Kemudian sudah dibawa dalam kondisi rusak dan beberapa laporan yang kami terima masih kami validasi lagi adalah ada anak yang membawa pulang MBG-nya," tutur Sudaryono.

        Pemerintah menegaskan insiden serupa tidak boleh kembali terjadi. Karena itu, pengawasan terhadap proses distribusi, waktu konsumsi, hingga kepatuhan siswa untuk menghabiskan makanan di sekolah akan diperketat sebagai bagian dari evaluasi program MBG.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: