Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Perundungan Dokter Disebut Membunuh Kepercayaan Pasien

        Perundungan Dokter Disebut Membunuh Kepercayaan Pasien Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Prof. Dr. dr. Dasaad Mulijono, SpJP(K), Guru Besar Lifestyle Medicine, menyampaikan duka sekaligus permohonan maaf atas nama profesi kedokteran yang dicintainya.

        “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kepada keluarga Yurizal Tri Chaerawan, izinkan saya memohon maaf. Maaf, karena ada di antara kami yang mengenakan jas putih, namun kehilangan hal paling mendasar dari kedokteran: empati,” ujar Prof. Dasaad.

        Yurizal, 29 tahun, asal Bogor dan peserta BPJS Kesehatan, wafat pada 31 Juli 2026. Sembilan hari sebelumnya, dari ranjang penantiannya, ia menulis telah menunggu ruang perawatan selama delapan jam. Ia bahkan menolak menyebut nama rumah sakit karena menyadari statusnya sebagai pasien BPJS.

        Duka itu kemudian berubah menjadi luka. Keluhan Yurizal, menurut Prof. Dasaad, tidak dirangkul, melainkan disambut olok-olok dan sindiran. Ada yang merendahkan kecerdasannya, menyindir status BPJS-nya, hingga melontarkan kelakar bahwa ia harus mengalami serangan jantung agar mendapat layanan lebih cepat. Permintaan maaf baru datang setelah kabar duka tersebut viral.

        “Pertanyaan yang menghantui saya bukan siapa pelakunya. Tetapi mengapa seorang manusia yang dididik bertahun-tahun untuk menolong, bisa sampai hati melukai orang yang datang meminta tolong?” tanya Prof. Dasaad.

        Dalam renungannya, Prof. Dasaad menyebut dua penyakit batin yang dapat menggerogoti profesi kedokteran. Pertama, memandang pasien BPJS sebagai “penerima belas kasihan”. Padahal, pasien membayar iuran secara gotong royong dan haknya dijamin undang-undang.

        Kedua, perasaan sebagai penolong yang paling berjasa. Dari posisi tersebut, keluhan pasien dapat dianggap sebagai pembangkangan, sindiran dilontarkan, dan martabat pasien diinjak.

        “Perundungan oleh dokter tidak hanya menambah luka. Ia membunuh kepercayaan. Ia membuat pasien takut bertanya, takut mengeluh, bahkan takut kembali berobat. Dan bagi Yurizal, kata-kata kejam itu datang di hari-hari terakhir hidupnya,” kata Prof. Dasaad dengan mata berkaca.

        Masalah itu, menurut dia, juga dapat muncul dalam relasi senior dan junior di lingkungan profesi. Kekuasaan yang tidak bercermin membuat bentakan dibungkus dalih pembinaan, sementara karier dokter muda dapat berada di tangan pihak yang merundungnya.

        “Saya sendiri merasakannya. Pada usia 63 tahun, setelah dua dekade mengabdi tanpa satu aduan pasien, saya keluar dari sebuah ruang sidang dengan air mata. Karena perbedaan pandangan ilmiah, saya dilabel dan hendak ditamatkan riwayat profesi saya. Oleh orang-orang yang seharusnya menjadi penjaga etik,” ungkapnya.

        Enam Langkah Pembenahan

        Prof. Dasaad tidak mengajak publik untuk menyalahkan, melainkan berbenah. Ia mengajukan enam langkah agar sumpah dokter tidak berhenti di bibir, tetapi menjadi sikap dalam pelayanan dan pengelolaan profesi.

        1. Negara hadir mengawasi. Organisasi profesi dan lembaga etik tidak boleh menjadi wilayah tak tersentuh.

        2. Sanksi berlaku bagi teladan buruk, termasuk senior, guru besar, dan petinggi organisasi.

        3. Laporan harus ditindak cepat, dengan batas waktu, tim independen, dan pengumuman hasil.

        4. Jalur hukum terbuka bagi korban, disertai perlindungan dan kerahasiaan.

        5. Pendidikan karakter dijalankan secara sungguh-sungguh, dinilai, dan diteladankan setiap hari.

        6. Meritokrasi diterapkan dalam kursi kekuasaan profesi. Pemimpin etik harus memiliki rekam jejak yang bersih dan nurani yang hidup.

        Enam langkah tersebut menempatkan persoalan etik bukan sekadar urusan internal profesi, melainkan bagian dari perlindungan hak pasien dan pembenahan tata kelola layanan kesehatan.

        “Untuk Yurizal, engkau tidak sempat kami bela semasa hidupmu. Biarlah kepergianmu kami jaga maknanya. Untuk para korban di seluruh negeri: kalian tidak sendiri. Diam bukan satu-satunya pilihan,” tutup Prof. Dasaad.

        Ia percaya masih ada ribuan dokter yang menolong tanpa merasa berjasa dan membimbing tanpa merasa berkuasa. “Itulah wajah sejati kedokteran Indonesia. Mari kita jaga.”

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: