Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BAKTI Kejar 2.000 Desa Belum Terjangkau Internet, Mayoritas Berada di Papua

        BAKTI Kejar 2.000 Desa Belum Terjangkau Internet, Mayoritas Berada di Papua Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital menyiapkan strategi relokasi infrastruktur telekomunikasi untuk mempercepat pemerataan akses internet di Papua.

        Direktur Utama BAKTI Komdigi Fadhilah Mathar mengatakan masih terdapat sekitar 2.000 desa dan kelurahan di Indonesia yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi. Sebagian besar wilayah tersebut berada di Papua.

        "Masih ada sekitar 2.000 desa yang belum ter-cover," kata Fadhilah seusai acara BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

        Menurut Fadhilah, secara keseluruhan hampir 98% dari sekitar 83.000 desa dan kelurahan di Indonesia telah terjangkau jaringan telekomunikasi. Namun, BAKTI masih mencatat sekitar 700 titik permukiman di Papua yang belum menikmati akses internet.

        Upaya memperluas konektivitas di Papua menghadapi tantangan, salah satunya kondisi keamanan. BAKTI sebenarnya telah membangun infrastruktur telekomunikasi, termasuk Base Transceiver Station (BTS), di sejumlah lokasi. Namun, sebagian pembangunan terkendala faktor keamanan.

        Untuk mengatasi persoalan tersebut, BAKTI akan memindahkan pembangunan infrastruktur dari lokasi yang dinilai kurang aman ke wilayah yang lebih memungkinkan untuk pengoperasian. Proses tersebut dilakukan dengan berkoordinasi bersama aparat keamanan dan pemangku kepentingan terkait.

        "Terutama untuk wilayah yang sudah ada infrastrukturnya, bagaimana kita melanjutkannya. Prosesnya sebenarnya tinggal memindahkan material dari gudang kami di Jayapura ke lokasi tujuan, misalnya ke Intan Jaya, lalu kita aktivasi on-air bekerja sama dengan operator seluler," jelas Fadhilah.

        Selain mempercepat pembangunan di wilayah yang belum terjangkau, BAKTI juga menerapkan strategi berbeda di daerah yang tingkat kematangan konektivitasnya sudah lebih tinggi.

        BAKTI akan melepas pengelolaan jaringan atau menerapkan exit strategy dengan menawarkan penyediaan dan pengelolaan layanan kepada operator seluler maupun mitra lainnya.

        Baca Juga: Internet BAKTI Bikin Petani 3T Tak Lagi Bergantung Tengkulak

        Baca Juga: BAKTI Andalkan Satria-1 Percepat Internet di 3T, 31.000 Lokasi Sudah Terhubung

        Baca Juga: Setelah Bangun 31 Ribu Titik Internet, BAKTI Mulai Susun Strategi Keluar

        Strategi tersebut diterapkan ketika kondisi suatu wilayah sudah memungkinkan bagi operator swasta untuk mengambil alih pengelolaan layanan secara komersial. Penyesuaian juga dapat dilakukan ketika tingkat penggunaan jaringan di suatu wilayah sangat rendah.

        "Sudah banyak wilayah yang kita exit. Ada beberapa ratus wilayah sekarang yang sudah exit, termasuk di NTT," ujar Fadhilah.

        Dengan strategi tersebut, intervensi pemerintah diharapkan dapat berkurang secara bertahap di wilayah yang telah mampu berkembang secara mandiri, sementara sumber daya BAKTI dapat lebih difokuskan untuk daerah yang masih membutuhkan dukungan konektivitas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: