Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Yang Kritis ke Pemerintah Sedikit-Sedikit Dituding 'Anak Abah', Anies: Sekarang Sudah Ada Peranakannya

        Yang Kritis ke Pemerintah Sedikit-Sedikit Dituding 'Anak Abah', Anies: Sekarang Sudah Ada Peranakannya Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Mantan Gubernur DKI Jakarta sekaligus mantan calon presiden 2024, Anies Baswedan menilai pelabelan “anak abah” terhadap orang-orang yang mengkritik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sudah tidak relevan.

        Menurut Anies, Pilpres 2024 telah selesai sehingga kritik terhadap pemerintah semestinya dijawab dengan argumentasi dan substansi, bukan label politik.

        Hal tersebut disampaikan Anies saat berbincang bersama komika Sammy Not A Slim Boy dan David Nurbianto dalam podcast Talk of Life.

        Dalam kesempatan itu, Sammy mengeluhkan dirinya yang kerap disebut sebagai pendukung Anies setiap kali melontarkan kritik terhadap pemerintah.

        Padahal, ia mengaku sudah lama konsisten mengkritik pemerintah, termasuk pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan ketika Anies menjabat sebagai Menteri Pendidikan maupun Gubernur DKI Jakarta.

        "Saya ini sebenarnya kritikus pemerintah dari zaman Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Termasuk ketika Pak Anies jadi gubernur, waktu jadi Menteri Pendidikan juga. Selalu kritikus pemerintah,” kata Sammy.

        Sammy mengatakan, situasinya kini menjadi sulit karena kritik terhadap pemerintahan Prabowo kerap dikaitkan dengan hasil Pilpres 2024.

        "Terus sekarang itu tuh saya di posisi susah karena ketika saya kritik Pak Prabowo, ‘Ah, ini mah rombongan kalah pilpres gitu.’ Jadi ya, ada enak enggak enaknya ya jadi ‘anak abah’,” ujar Sammy.

        Menurut Sammy, label “anak abah” bahkan kerap digunakan untuk merespons kritik terhadap pemerintah dengan mengaitkannya pada posisi politik seseorang dalam Pilpres 2024.

        Menanggapi hal tersebut, Anies menilai narasi tersebut seharusnya sudah ditinggalkan. Ia menegaskan bahwa kontestasi Pilpres memiliki batas waktu dan telah berakhir.

        “Kalau pilpres itu udah ada masanya. Setahun itu sudah lewat, habis itu sudah selesai,” tegas Anies.

        Anies mengatakan, kritik terhadap kebijakan pemerintah seharusnya dihadapi dengan jawaban yang substansial. Menurut dia, pelabelan politik justru membuat ruang publik tidak berkembang karena kritik tidak dijawab dengan gagasan.

        "Sebetulnya saya kasihan kalau narasinya tidak berkembang. Itu kan narasi pada saat pilpres. Setelah itu kan sudah banyak yang dikerjakan. Kenapa tidak bisa dijawab? Kenapa harus memberi label kepada yang berbicara," kata Anies.

        Ia juga menyoroti penggunaan istilah “anak abah” yang tidak hanya diarahkan kepada individu, tetapi juga karya kreatif. Anies mencontohkan film dokumenter Dirty Vote yang sempat disebut sebagai produksi “Anak Abah Production”.

        Menurut Anies, setelah Pilpres 2024 berakhir, ruang publik seharusnya kembali diisi dengan adu gagasan dan perdebatan mengenai kebijakan pemerintah.

        David Nurbianto kemudian menilai penggunaan label “anak abah” kini justru semakin luas. Menurutnya, sebutan tersebut tidak lagi terbatas pada pendukung Anies, tetapi juga digunakan untuk menyebut orang-orang yang kritis terhadap pemerintah.

        "Bahkan menurut saya sebenarnya keuntungan untuk Pak Anies karena sekarang kita semua yang kritis dilabeli anak Abah. Berarti kan anak Abah bertambah banyak," ujar David.

        Anies mengamini pernyataan tersebut dengan nada bercanda. “Betul. Sudah ada peranakan,” sahut Anies.

        Sebutan “anak abah” mulai populer sebagai istilah untuk menyebut pendukung Anies Baswedan selama Pilpres 2024. Setelah pemilu berakhir, istilah tersebut masih digunakan di media sosial untuk melabeli individu atau kelompok yang menyampaikan kritik terhadap pemerintah.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: