Skill Memimpin Anies Diklaim Melampui Bung Karno, Bukan Tipikal Pemimpin 'Rakyat Kelaparan Dikasihnya Pidato'
Kredit Foto: Akun X @Hilmi28
Direktur Forum Studi Sosial Politik Nuim Hidayat menilai Anies Baswedan semestinya menjadi salah satu pilihan utama umat Islam dalam menentukan sosok pemimpin nasional.
Nuim menyebut Anies memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo, terutama dari sisi kecerdasan, dan kreativitas.
"Anies adalah pemimpin yang lebih shalih, lebih cerdas dan lebih kreatif dari Prabowo dan Ganjar," kata Nuim.
Menurut Nuim, pilihan terhadap calon presiden tidak selalu didasarkan pada penilaian objektif mengenai kapasitas dan kemampuan calon dalam memimpin Indonesia. Ia menilai terdapat sejumlah kepentingan pribadi yang dapat memengaruhi pilihan seseorang.
Ia mencontohkan adanya pihak yang mendukung calon presiden karena berharap memperoleh posisi sebagai menteri atau komisaris. Ada pula yang memilih karena mendapatkan imbalan materi dari calon yang didukung.
"Motif-motif duniawi itulah yang menyebabkan seseorang tidak obyektif lagi menilai kapabilitas sang calon presiden. Nafsu jabatan dan tamak harta menghinggapi dirinya," ujar Nuim.
Nuim menilai kondisi tersebut juga dapat terjadi di kalangan tokoh Islam. Namun, ia memilih tidak menyebut nama tokoh yang dimaksud.
Ia kemudian membandingkan kepemimpinan Anies dengan sosok Presiden Soekarno. Menurut Nuim, Soekarno memang dikenal sebagai orator yang memiliki kemampuan pidato kuat.
Namun, ia mengutip pandangan Buya Hamka yang menilai kemampuan berpidato saja tidak cukup untuk menjadi ukuran keberhasilan seorang pemimpin.
"Bagi sebagian orang Soekarno adalah pemimpin yang hebat. Kata-katanya menggelegar. Pidatonya menggema. Tapi bagi ulama besar Buya Hamka, Soekarno bukan tokoh yang hebat," katanya.
"Menurut Hamka, Soekarno hanya seneng pidato. Ketika rakyat banyak yang kelaparan antri beras, Soekarno menghiburnya dengan pidato. Soekarno hebat dalam omongan, tapi tidak hebat dalam pelaksanaan (action). Para sejarawan mencatat, setelah 1959 Soekarno mengubah demokrasi di Indonesia menjadi demokrasi terpimpin. Dan itulah awal kediktatoran. Sehingga jangan heran akhirnya banyak tokoh Islam yang dipenjara oleh Soekarno. Misalnya Hamka, Mohammad Roem, Prawoto Mangkusmito, Mohammad Natsir dan lain-lain," tegasnya.
Nuim mengatakan, berdasarkan pandangan Hamka, Soekarno lebih banyak mengandalkan pidato ketika menghadapi berbagai persoalan masyarakat.
"Pemimpin perlu ahli dalam pidato, ahli dalam menulis. Tapi itu tidak cukup. Pemimpin juga perlu ahli dalam tindakan (action)," ujar Nuim.
Selain kemampuan berkomunikasi, menurut dia, seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan manajemen dan memahami psikologi, baik psikologi individu maupun psikologi massa. Yang tidak kalah penting, pemimpin harus mampu menjadi teladan bagi masyarakat.
Nuim juga menyoroti besarnya jumlah penduduk Muslim di Indonesia yang menurutnya memiliki pengaruh signifikan dalam pemilihan presiden.
Ia menilai kekuatan politik umat Islam sebenarnya dapat menentukan arah kepemimpinan nasional apabila para tokoh Islam mampu bersatu dalam menentukan pilihan politik.
"Jumlah umat Islam yang 83 persen (251 juta) di negeri ini, sebenarnya sangat menentukan dalam pemilihan presiden. Bila tokoh-tokoh Islam bersatu, maka akan terpilih presiden yang ideal di negeri ini," kata Nuim.
Menurut Nuim, presiden yang ideal adalah pemimpin yang mampu membawa Indonesia menuju kondisi yang adil dan makmur serta tidak menzalimi kelompok mayoritas maupun minoritas.
Namun, ia menilai tokoh-tokoh Islam justru kerap terpecah dalam setiap momentum pemilihan presiden.
"Sayangnya tokoh-tokoh Islam, 'selalu' berpecah dalam setiap pemilihan presiden. Kita jangan menyalahkan oligarki atau orang luar," ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat