Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Isu Prabowo-Gibran Pecah Kongsi Disebut Skenario Politik, Ini Analisis Pengamat

        Isu Prabowo-Gibran Pecah Kongsi Disebut Skenario Politik, Ini Analisis Pengamat Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Isu keretakan hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan setelah keduanya terlihat akrab bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam peringatan HUT ke-81 RI. Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas menilai isu pecah kongsi tersebut justru bisa menjadi bagian dari dinamika dan skenario politik menjelang Pemilu 2029.

        Menurut Fernando, hubungan politik antara Prabowo dan Gibran tidak bisa dinilai hanya berdasarkan sejumlah momen yang terlihat di ruang publik. Terlebih, dinamika politik menuju 2029 masih panjang sehingga berbagai kemungkinan masih dapat berubah.

        "Saya kira ini bagian skenario politik supaya apa? Supaya jangan terjadi perpecahan secara dini koalisi partai-partai politik pendukung pemerintahan," ujar Fernando, Senin (17/8/2026).

        Fernando menjelaskan, jika sejak sekarang partai-partai politik pendukung pemerintahan mengetahui secara pasti siapa pasangan yang akan diusung Prabowo pada 2029, dinamika di dalam koalisi justru bisa berubah. Partai yang merasa tidak memiliki peluang untuk menjadi pendamping Prabowo berpotensi kehilangan motivasi dalam mendukung pemerintahan.

        "Karena apa? Kalau mereka sejak awal ini sudah tahu bahwa Prabowo dengan Mas Gibran akan kembali berpasangan mengikuti kontestasi di 2029, tentu partai-partai politik yang tergabung di dalam pemerintahan seperti Golkar, PAN, Demokrat dan yang lain-lain tentu mereka akan putus asa," katanya.

        Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi membuat partai-partai dalam koalisi tidak lagi bekerja secara maksimal untuk membantu pemerintahan Prabowo. Bahkan, Fernando menyebut terdapat kemungkinan munculnya upaya melemahkan pemerintahan dari internal apabila arah politik 2029 sudah ditentukan terlalu dini.

        "Jadi, mereka akan melakukan upaya pembusukan Kabinet Merah Putih dari dalam. Jadi, ini [isu perpecahan] tentu bagian dari skenario politik," tegasnya.

        Pernyataan Fernando tersebut muncul setelah Prabowo, Gibran, dan Jokowi memperlihatkan keakraban dalam perayaan HUT ke-81 RI di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/2026). Ketiganya terlihat duduk bersama dan berbincang saat menyaksikan atraksi udara yang melibatkan 81 pesawat.

        Prabowo bahkan terlihat duduk diapit Jokowi di sebelah kanan dan Gibran di sebelah kiri. Ketiganya beberapa kali tampak tersenyum, berbincang, serta tertawa bersama ketika menyaksikan rangkaian perayaan kemerdekaan.

        Momen tersebut kemudian menjadi perhatian karena sebelumnya sempat muncul berbagai spekulasi mengenai hubungan Prabowo dan Gibran. Salah satunya adalah isu bahwa keduanya tidak akan kembali berpasangan pada Pemilu 2029.

        Baca Juga: Jokowi Pintar Membaca Survei, Disebut Pantau Pergerakan Prabowo-Gibran

        Spekulasi mengenai keretakan hubungan tersebut juga muncul dari sejumlah peristiwa yang kemudian ditafsirkan publik sebagai tanda adanya perbedaan. Mulai dari minimnya peran Gibran yang dinilai terlihat di pemerintahan hingga sejumlah aktivitas politik dan program yang dijalankan Wakil Presiden secara mandiri.

        Fernando menilai berbagai peristiwa tersebut belum cukup untuk menjadi dasar memastikan adanya perpecahan antara Prabowo dan Gibran. Sebab, apa yang terlihat masyarakat di depan panggung politik belum tentu menggambarkan dinamika yang berlangsung di balik layar.

        "Meskipun demikian, saya kira ini kan hanya sebatas persepsi publik atau penggiringan opini yang hanya dilihat dari yang kasat mata," ujarnya.

        Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan menuju Pemilu 2029 masih cukup panjang. Karena itu, hubungan Prabowo, Gibran, maupun Jokowi masih akan mengalami berbagai dinamika sebelum keputusan politik mengenai pencalonan benar-benar dibuat.

        "Keduanya ini masih saling mengukur, kalau berbicara tentang 2029, karena masih lumayan jauh, masih 3,5 tahun lagi, walaupun pencalonannya nanti sekitar dua tahun lebih lagi," kata Fernando.

        Menurut Fernando, Prabowo dan Jokowi masih memiliki kepentingan politik masing-masing yang perlu diperhitungkan sebelum mengambil keputusan. Karena itu, keakraban yang ditampilkan ketiganya dalam acara kenegaraan tidak serta-merta dapat diterjemahkan sebagai kesepakatan politik untuk Pemilu 2029.

        Namun, apabila Prabowo dan Gibran benar-benar kembali berpasangan, Fernando menilai kondisi tersebut akan memengaruhi perhitungan para elite politik lainnya. Mereka yang ingin menjadi pendamping Prabowo pada 2029 harus mencari strategi agar tetap memiliki peluang masuk dalam konfigurasi politik tersebut.

        "Kalau melihat dari apa yang ditampilkan oleh ketiganya pada saat perayaan HUT RI hari ini, tentu ini akan membuat pihak-pihak yang berpikir bagaimana bisa menjadi pendamping Pak Prabowo di 2029, mencoba mencari cara lain agar bisa dilirik oleh Pak Prabowo," tuturnya.

        Dengan demikian, isu pecah kongsi Prabowo-Gibran masih sebatas spekulasi dan belum dapat dijadikan kepastian mengenai konfigurasi Pilpres 2029. Fernando melihat dinamika tersebut justru dapat menjadi bagian dari strategi politik untuk menjaga soliditas koalisi sekaligus mempertahankan ruang manuver seluruh partai pendukung pemerintah.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: