Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Politisi PDIP sekaligus aktivis NU, Mohamad Guntur Romli, melontarkan kritik keras terhadap arahan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono yang meminta guru mencicipi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) sebelum disajikan kepada siswa..
Menurut Gun Romli, kebijakan tersebut tidak masuk akal dan justru menambah beban guru
"Bayangkan seorang guru yang seharusnya sibuk menyiapkan bahan ajar, kini harus jadi juru cicip dadakan sebelum bel pelajaran berbunyi," tulisnya di Instagram, dikutip Jumat (21/8).
Ia memaparkan tiga alasan mengapa instruksi itu dianggap ngawur:
Pertama, resep gagal yang diulang. Kebijakan serupa pernah diterapkan era Kepala BGN sebelumnya, Nanik S Deyang, namun justru memicu kasus keracunan.
"Ini pengulangan resep gagal. Kebijakan serupa sudah diuji sejak Nanik S Deyang. Hasilnya angka keracunan justru melonjak dari puluhan ribu menjadi puluhan ribu lagi sepanjang setahun berikutnya," ucap Gun Romli.
"Kalau obatnya sama, tapi penyakitnya makin parah itu bukan strategi, itu pengulangan kesalahan," imbuhnya.
Kedua, Salah sasaran tanggung jawab. Tugas uji organoleptik seharusnya dilakukan ahli gizi di dapur SPPG yang sudah digaji negara dan memiliki SOP resmi, bukan guru.
"SPPG sudah punya ahli gizi bergaji dengan SOP uji organoleptik dua tahap sesuai juknis resmi BGN. Kalau sistem ini sudah ada dan dibayar negara, kenapa bebannya justru dilempar ke guru yang tak pernah dilatih soal keamanan pangan? Ini bukan pengawasan berlapis, ini kamuflase kegagalan institusi," jelasnya.
Ketiga, keluar dari ranah kewenangan. Guru berada di bawah Kemendikdasmen, bukan BGN. Instruksi ini menunjukkan Kepala BGN tidak memiliki otoritas atas guru.
Gun Romli menilai, jika tiga kepemimpinan BGN berturut-turut masih memakai pola yang sama tanpa membenahi kapasitas dapur yang dipaksa memproduksi ribuan porsi, maka yang gagal bukan guru, melainkan negara.
Baca Juga: MBG Harus Lebih Baik! Bos BGN Kini Wajibkan Kepala SPPG Mulai Standby Dini Hari
Sebelumnya, Sudaryono menjelaskan bahwa guru diminta menjadi penguji organoleptik terakhir untuk memastikan sajian MBG aman dikonsumsi. Uji organoleptik sendiri dilakukan dengan panca indera—melihat, meraba, mencium, dan mencicipi makanan.
“Bapak, ibu guru sebagai perannya kami mohon sebagai organoleptik yang terakhir,” ujar Sudaryono dalam rapat koordinasi bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI (Kemendikdasmen), Sabtu (8/8/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: