Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Menguat ke Level 6.524, Disokong oleh 307 Saham

        IHSG Menguat ke Level 6.524, Disokong oleh 307 Saham Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada pembukaan perdagangan Jumat (21/8/2026). Penguatan ini melanjutkan tren positif setelah sehari sebelumnya IHSG berhasil kembali menembus level psikologis 6.500.

        Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 6.526,30, naik 24,71 poin atau 0,38% dibandingkan penutupan sebelumnya di level 6.501,59.

        Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di level 6.524,07. Indeks sempat naik ke level tertinggi 6.531,49 dan menyentuh level terendah 6.522,92.

        Penguatan juga terlihat pada mayoritas saham. Sebanyak 307 saham menguat, sementara 101 saham melemah dan 555 saham lainnya stagnan.

        Dari sisi transaksi, nilai perdagangan pada awal sesi mencapai Rp307,1 miliar, dengan volume mencapai 588,6 juta saham. Sementara itu, frekuensi transaksi tercatat sebanyak 47.950 kali.

        IHSG Bakal Lanjutkan Naik ke Atas Level 6.500

        Dalam riset hariannya, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (21/8/2026), apabila mampu bertahan di atas level 6.500. Namun, investor tetap perlu mewaspadai tekanan dari sentimen eksternal, terutama kenaikan imbal hasil US Treasury.

        IHSG masih memiliki ruang untuk melanjutkan kenaikan dengan level 6.500 menjadi area penting yang perlu dipertahankan. 

        "Jika level tersebut mampu bertahan, peluang penguatan indeks dinilai masih terbuka," tulis riset Phintraco Sekuritas.

        Dari pasar global, indeks-indeks utama di bursa Wall Street ditutup melemah pada Kamis (20/8/2026). Koreksi tersebut dipicu oleh kembali meningkatnya yield US Treasury. 

        "Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat meningkatkan kekhawatiran terhadap tingginya biaya pinjaman yang harus ditanggung perusahaan," jelas riset Phintraco Sekuritas.

        Baca Juga: Batas Minimum Harga Saham Jadi Rp1, Ini Alasan BEI

        Baca Juga: BEI Suspensi 5 Saham, WIKA hingga AGAR Kena Setop

        Baca Juga: Diinginkan Haji Isam, tapi BYAN Dapat Status Khusus Ini dari BEI

        Yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat naik lebih dari 5 basis poin menjadi 4,704% pada Kamis (20/8). Pergerakan yield tersebut menjadi salah satu sentimen yang perlu dicermati investor karena dapat memengaruhi aliran dana ke aset berisiko, termasuk saham.

        Di sisi komoditas, harga minyak mentah justru ditutup menguat lebih dari 2% pada perdagangan 20 Agustus. Sementara itu, harga emas spot terkoreksi tipis 0,1% ke level US$4.516 per troy ounce.

        Selain sentimen global, pelaku pasar domestik juga mencermati sejumlah rencana perubahan aturan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI berencana mengubah batas minimum harga saham di pasar reguler dan pasar tunai dari Rp50 menjadi Rp1 per saham.

        "BEI juga berencana menghapus sejumlah kriteria pada Papan Pemantauan Khusus serta menyesuaikan klasifikasi batasan auto rejection. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi dinamika perdagangan sejumlah saham di pasar domestik," ungkap Phintraco Sekuritas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: