Hashim Djojohadikusumo: Hunian Terjangkau Tidak Boleh Diborong Segelintir Orang
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perumahan Hashim Djojohadikusumo meminta pengelola program hunian terjangkau memastikan setiap unit benar-benar bisa diakses masyarakat yang membutuhkan. Ia mengingatkan agar hunian tidak justru diborong oleh pihak tertentu.
Menurut Hashim, potensi pembelian dalam jumlah besar perlu diantisipasi, terutama karena hunian yang dibangun memiliki lokasi dan kualitas yang baik sehingga nilai propertinya berpotensi meningkat.
"Jangan nanti ada oknum nakal. Karena pasti kita lihat nanti, apalagi mutunya begitu bagus. Lokasi dan mutu bagus, nanti nilai tanah dan nilai apartemen akan meningkat tajam," ujar Hashim, seperti diberitakan Minggu (23/8/2026).
Maka dari itu, ia meminta PT KAI (Persero) dan pengelola hunian memperketat mekanisme kepemilikan. Jangan sampai satu pihak menguasai banyak unit dengan menggunakan nama sopir, pekerja, atau orang lain.
Hashim mencontohkan, dari 3.000 unit hunian terjangkau yang tersedia, jangan sampai ada pihak tertentu yang membeli ratusan unit dengan cara tersebut.
"Dari 3.000 unit, nanti orang tertentu beli 300, 500 unit. Nanti titip siapa? Titip sopirnya. Atas nama sopirnya, atas nama office boy-nya," ungkap Hashim.
Menurutnya, pemerataan harus menjadi prinsip utama dalam program hunian terjangkau.
"Kita harus adil, satu pelanggan, satu peminat, satu apartemen," tegas adik dari Presiden Prabowo Subianto ini.
Tak Hanya Dibangun, Hunian Harus Dirawat
Selain soal kepemilikan, Hashim menyoroti pentingnya pemeliharaan bangunan. Menurut dia, kualitas hunian tidak boleh hanya dijaga saat pembangunan, tetapi juga setelah masyarakat mulai menempatinya.
Ia menilai perawatan masih menjadi salah satu kelemahan dalam pengelolaan berbagai proyek di Indonesia.
Baca Juga: Gandeng Swasta Jajakan 130 Ribu Hunian, Danantara Siap Gelar Pameran Rumah Terbesar
Baca Juga: Atasi Backlog Hunian, BPS dan Kementerian PKP Susun Basis Data Perumahan 2026
Baca Juga: Kebakaran Hebat Hanguskan 120 Rumah Adat di Dusun Sade Lombok Tengah
"Titik lemah kita adalah perawatan, pemeliharaan," ujarnya.
Hashim berharap hunian tersebut tetap layak dan nyaman ditempati dalam jangka panjang. Ia tidak ingin masalah seperti kebocoran atau bangunan berkarat muncul akibat pengelolaan yang kurang baik.
Baginya, keberhasilan program hunian terjangkau bukan hanya soal berapa banyak unit yang berhasil dibangun. Pemerataan kepemilikan dan keberlanjutan kualitas bangunan juga harus menjadi perhatian agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan