MBG Tetap Jalan Meski Sekolah Diliburkan Gegara Karhutla: Orang Tua Diminta Ambil Langsung
Kredit Foto: Istimewa
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pekanbaru tetap berjalan meski kegiatan pembelajaran tatap muka untuk sementara dihentikan akibat memburuknya kualitas udara karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pemerintah Kota Pekanbaru memilih tetap menyalurkan makanan bergizi kepada siswa TK hingga SMP. Namun hal tersebut dilakukan dengan mekanisme berbeda untuk melindungi anak dari paparan kabut asap.
Baca Juga: Loyalis Jokowi: Enggak Bisa Ngomong Pemerintahan Antikorupsi Kalau Membiarkan Praktik Korupsi...
Meski tidak datang ke sekolah untuk belajar, anak-anak tetap mendapatkan paket MBG. Namun, makanan tersebut tidak dibagikan langsung kepada peserta didik. Orang tua atau wali diminta datang ke sekolah untuk mengambil makanan dan membawanya pulang agar dikonsumsi anak di rumah.
Kepala Dinas Pendidikan Pekanbaru Abdul Jamal mengatakan sekolah perlu berkoordinasi dengan orang tua atau wali peserta didik terkait mekanisme pengambilan makanan tersebut.
"Untuk penyaluran program Makan Bergizi Gratis, bagi pihak sekolah agar menghubungi orang tua atau wali peserta didik untuk mengambil MBG di sekolah," kata Jamal, Senin (24/8/2026).
Mekanisme pengambilan tersebut dibuat dengan pertimbangan keselamatan siswa. Pemerintah tidak mengizinkan peserta didik datang sendiri ke sekolah hanya untuk mengambil makanan.
Jamal menegaskan makanan harus diambil oleh orang tua atau wali, kemudian dibawa pulang untuk diberikan kepada anak.
"Pengambilan dilakukan oleh orang tua atau wali dan tidak diperkenankan dilakukan oleh peserta didik, sehingga tetap dapat diterima dan dikonsumsi oleh peserta didik di rumah," ujarnya.
Kebijakan ini membuat program pemenuhan makanan bergizi bagi anak tetap berjalan meskipun kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dihentikan sementara.
Di sisi lain, pemerintah juga meminta orang tua memastikan anak tetap berada di dalam rumah selama pembelajaran dilakukan secara daring. Anak tidak dianjurkan keluar rumah untuk bermain maupun melakukan aktivitas lain yang tidak mendesak.
Adapun keputusan menghentikan sementara pembelajaran tatap muka diambil setelah kualitas udara di Pekanbaru menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (23/8/2026) pukul 17.00 WIB hingga 21.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat berada pada kategori Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat.
Nilainya berada pada kisaran 170,2 hingga 235,7 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk meminta siswa mengikuti pembelajaran dari rumah.
Dengan sistem tersebut, aktivitas anak di luar ruangan dapat ditekan selama kualitas udara masih buruk. Orang tua juga diimbau tidak mengajak anak bermain atau melakukan kegiatan di luar rumah selama periode kabut asap.
Baca Juga: Denny Indrayana: Dalam Sejarah Republik Indonesia, Baru Sekali Ini Ada Presiden Punya...
Meski demikian, penghentian pembelajaran tatap muka tidak otomatis menghentikan layanan MBG. Pemerintah memilih mengubah pola distribusi agar makanan tetap sampai kepada penerima manfaat tanpa mengharuskan anak berada di luar rumah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: