Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PSI: Gibran Tak Hanya Jalankan Tugas Sebagai Wapresnya Prabowo, tapi Juga Sedang Bangun...

        PSI: Gibran Tak Hanya Jalankan Tugas Sebagai Wapresnya Prabowo, tapi Juga Sedang Bangun... Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai sedang menjalani dua proses sekaligus dalam pemerintahan dari Presiden Prabowo Subianto. Selain menjalankan tugas konstitusional, ia juga tengah membangun pengalaman politiknya di tingkat nasional.

        Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedy Nur Palakka menilai posisi wakil presiden tidak seharusnya diukur hanya dari seberapa sering sosok tersebut muncul di hadapan publik. Menurutnya kapasitas, pengalaman, kontribusi, serta kesiapan menjalankan tanggung jawab merupakan hal yang jauh lebih penting.

        Baca Juga: Projo: PSI dan Kami Punya Kedekatan, Tak Perlu Disangkal Sama-sama Pernah dan Tetap Pendukung Jokowi

        “Ukuran seorang wapres seharusnya bukan seberapa sering ia tampil atau seberapa ramai ia diberitakan. Yang lebih penting adalah kapasitas, pengalaman, kontribusi, dan kesiapan memikul tanggung jawab ketika negara membutuhkannya,” ujar Dedy, dikutip Kamis (27/8/2026).

        Ia menilai seorang wakil presiden tidak tepat apabila hanya dipandang sebagai sosok yang menunggu kemungkinan pergantian kepemimpinan. Jabatan Gibran dalam hal ini sebagai wakil presiden memberikan ruang bagi politikus muda itu untuk menjalankan mandat pemerintahan sekaligus memperluas pengalaman politiknya.

        “Gibran berada dalam posisi yang menarik. Ia bukan hanya sedang menjalankan tugas sebagai Wapres, tetapi juga sedang membangun pengalaman politiknya sendiri,” beber Dedy.

        Dedy mengingatkan bahwa wakil presiden merupakan bagian dari pasangan calon yang memperoleh mandat langsung dari rakyat melalui pemilu. Karena itu, seorang wapres memiliki legitimasi politik yang tidak semestinya direduksi menjadi sekadar “ban serep”.

        “Namun kita juga perlu memahami satu hal sederhananya bahwa Wapres adalah bagian dari pasangan yang dipilih langsung oleh rakyat,” tegasnya.

        Menurut Dedy, istilah “ban serep” muncul dari pengalaman sejarah ketika sejumlah wakil presiden mengambil alih kursi kepresidenan akibat perubahan situasi politik. Namun, ia menilai konteks ketatanegaraan pascareformasi membuat posisi tersebut menjadi lebih kompleks.

        “Artinya, Wapres bukan sekadar penonton yang duduk manis di kursi sebelah presiden,” katanya.

        Dedy juga menilai perjalanan politik seseorang tidak selalu berhenti pada posisi yang sedang dijalani. Pengalaman dan perjuangan politik dapat membuka kemungkinan baru di masa mendatang.

        Baca Juga: Bela Ucapan Budi Arie, Projo ke PSI: Jangan Jadikan Perbedaan Pandangan Jadi Alasan Bermusuhan

        “Sebab sejarah selalu mengajarkan bahwa selalu ada jalan bagi mereka yang mau terus berjuang di jalur jas merah,” ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: