Kredit Foto: Istimewa
Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan alasan skripsi Presiden ke-7 RI Joko Widodo muncul lebih dahulu di repositori digital Electronic Theses and Dissertations (ETD), sementara karya ilmiah sejumlah mahasiswa satu angkatannya belum tersedia dalam sistem tersebut.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM Sigit Sunarta mengatakan keberadaan skripsi Joko Widodo dalam ETD bukan hasil rekayasa digital. Menurut dia, unggahan tersebut merupakan bagian dari proses pengarsipan digital yang dilakukan UGM secara bertahap.
Penjelasan itu disampaikan untuk menjawab pertanyaan publik mengenai karya ilmiah Joko Widodo yang telah tersedia secara digital, sedangkan skripsi mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980 lainnya belum ditemukan dalam repositori yang sama.
Sigit menjelaskan, proyek digitalisasi arsip karya ilmiah melalui ETD telah berlangsung sejak 2013. Prosesnya dilakukan secara bertahap dengan memulai dari karya mahasiswa angkatan yang lebih muda, kemudian bergerak ke angkatan yang lebih lama.
“Dimulai dari angkatan yang termuda. Karena angkatan yang termuda itu pasti punya soft file-nya, jadi jauh lebih mudah... terus menuju ke angkatan-angkatan tua,” jelas Sigit dalam klarifikasi resmi UGM yang ditayangkan melalui akun YouTube UGM pada 22 Agustus 2025.
Menurut Sigit, ketika polemik mengenai ijazah Joko Widodo mulai mencuat pada April 2026, proses digitalisasi arsip skripsi di Fakultas Kehutanan UGM rata-rata baru mencapai karya mahasiswa sekitar angkatan 1990.
Skripsi Jokowi Diunggah untuk Sambut Kunjungan
Sigit menjelaskan terdapat alasan khusus mengapa skripsi Joko Widodo kemudian diunggah ke ETD meski proses digitalisasi arsip mahasiswa angkatan 1980 belum sampai pada tahap tersebut.
Menurut dia, unggahan dilakukan ketika Joko Widodo telah terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia dan berencana kembali mengunjungi almamaternya.
“Pada saat Pak Jokowi menjadi presiden dan kebetulan mau berkunjung ke fakultas waktu itu, kami mewujudkan kebanggaan itu dengan cara meng-upload skripsinya Pak Jokowi itu di ETD. Jadi itu betul-betul merupakan wujud kebanggaan,” ujar Sigit.
Ia mengatakan keputusan tersebut merupakan bentuk apresiasi institusi terhadap salah satu alumninya yang saat itu telah menjadi Presiden Republik Indonesia.
Sigit mengakui pihak fakultas tidak memperkirakan langkah tersebut kemudian menjadi bahan pertanyaan publik terkait proses digitalisasi arsip.
“Kami tidak pernah berpikir bahwa ini nanti akan digoreng ke sana kemari,” katanya.
UGM menyatakan keberadaan skripsi Joko Widodo di ETD sebelum karya ilmiah sejumlah teman seangkatannya tidak berarti bahwa arsip mahasiswa lain tidak tersedia. Digitalisasi arsip lama dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu karena sebagian besar dokumen berasal dari periode ketika penyimpanan karya ilmiah belum menggunakan format digital.
Dengan demikian, menurut penjelasan Fakultas Kehutanan UGM, perbedaan waktu kemunculan dokumen di ETD berkaitan dengan proses digitalisasi dan adanya pengunggahan khusus terhadap skripsi Joko Widodo ketika ia menjabat sebagai presiden.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: