Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AS dapat Serangan Bertubi, Trump Provokasi Rakyat Iran untuk Kudeta

        AS dapat Serangan Bertubi, Trump Provokasi Rakyat Iran untuk Kudeta Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Di tengah ketegangan militer yang meningkat antara AS dan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan rakyat Iran untuk bangkit dan berjuang. Trump juga menegaskan tidak akan memaksa Iran untuk berunding dan justru memilih mempertahankan posisi Amerika Serikat saat ini.

        Menurut Trump, AS kini hampir sepenuhnya mengendalikan Selat Hormuz, sementara kondisi ekonomi Iran disebut mengalami keruntuhan. Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social dan dilansir AFP pada Rabu (2/9/2026).

        "Saya tidak mencoba memaksa Iran ke meja perundingan," kata Trump.

        Ia menambahkan, dirinya tidak mempermasalahkan jika Iran memilih menandatangani perjanjian yang dinilainya tidak memberikan keuntungan bagi negara tersebut. Trump menyatakan lebih menyukai kondisi yang ada saat ini.

        Ketegangan AS-Iran meningkat setelah militer Amerika Serikat menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap sejumlah target Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

        Serangan tersebut menyasar situs pertahanan udara, sistem radar, fasilitas maritim, kemampuan pemasangan ranjau, hingga situs komunikasi. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut serangan itu sebagai respons terhadap aktivitas militer IRGC di kawasan Selat Hormuz.

        Pemerintah AS kemudian mengeluarkan peringatan keamanan baru bagi warga negaranya yang berada di Timur Tengah. Warga AS di kawasan tersebut diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi eskalasi dan gangguan perjalanan, termasuk pembatalan penerbangan serta penutupan wilayah udara.

        Departemen Luar Negeri AS juga menyatakan fasilitas diplomatik dan kepentingan Amerika Serikat di luar kawasan Timur Tengah berpotensi menjadi target serangan kelompok yang mendukung Iran.

        Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak mencari perang. Namun, Iran disebut akan memberikan respons tegas apabila mendapat serangan.

        "Iran tidak mencari perang," ujar Pezeshkian kepada wartawan sebelum bertolak ke Kyrgyzstan pada Senin (31/8/2026), seperti dilansir Anadolu Agency.

        Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan tinggal diam menghadapi agresi dan akan merespons dengan tegas jika diserang. Pernyataan tersebut dikutip dari kantor berita Fars.

        Menurut Pezeshkian, ketidakstabilan yang terjadi di kawasan Timur Tengah pada akhirnya akan menjadi tantangan bagi semua negara.

        Baca Juga: AS Lakukan Serangan ke Pesta Pernikahan di Iran, Teheran: Setan!

        Sementara itu, serangan militer terbaru AS terhadap Iran dilakukan pada Minggu (30/8/2026). Militer AS membombardir dua peluncur roket milik Iran di Pulau Larak, yang menjadi salah satu titik penting bagi pengendalian militer dan pelayaran di Selat Hormuz.

        IRGC kemudian merespons dengan meluncurkan rudal balistik dan drone ke dua pangkalan udara AS di Yordania. IRGC juga meluncurkan rudal ke kapal-kapal AS di Selat Hormuz.

        Menurut IRGC, serangan balasan tersebut menyebabkan kerusakan pada infrastruktur dan fasilitas militer AS.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: