Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
JP Morgan Sekuritas Indonesia memangkas proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi 7.000 hingga akhir 2026, dari proyeksi sebelumnya 10.000.
Head of Indonesia Equity Research JP Morgan Indonesia, Benny Kurniawan mengatakan pasar modal Indonesia masih menghadapi tantangan berupa suku bunga tinggi, kenaikan harga minyak, serta potensi kenaikan harga pangan.
"Dengan postur APBN yang kami lihat, kami rasa perekonomian akan cukup stabil. Tim JP Morgan masih mengekspektasikan IHSG di Desember pada level 7.000," ujar Benny dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).
Sejak awal tahun, IHSG telah terkoreksi sekitar 23%, dipengaruhi kenaikan harga minyak, suku bunga tinggi, serta meningkatnya imbal hasil obligasi di negara maju yang membuat aset Indonesia relatif kurang menarik.
"Kabar MSCI pada Februari juga menekan pasar dan diperkirakan mendorong equity outflow sekitar US$4 miliar-US$5 miliar sepanjang tahun ini," jelas dia.
Tak hanya itu, investor global juga mencermati dampak El Nino terhadap produksi pangan, terutama beras, gula, kopi, dan gandum. Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor gandum terbesar di dunia, sementara harga gandum telah meningkat cukup banyak.
Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat 0,56% ke Level 6.632,83, Didorong oleh 315 Saham
Baca Juga: BEI Minta Penjelasan soal Penggeledahan KPK, Ini Jawaban ADRO
Baca Juga: RUPSLB BEI Ditunda, OJK: Hari Jumat Baru Kita Bahas
"El Nino secara historis tidak baik untuk produksi pangan di Indonesia dan negara sekitar, terutama beras, gula, kopi, dan gandum. Indonesia juga merupakan salah satu pengimpor gandum terbesar di dunia, sementara harganya sudah naik cukup banyak," ungkap Benny.
Di tengah tantangan tersebut, JP Morgan menilai government spending masih menopang pertumbuhan sejumlah sektor, seperti sektor konsumer yang mencatat pertumbuhan rata-rata dua digit pada paruh pertama tahun ini. Hal iu menunjukkan ekonomi domestik masih cukup kuat.
JP Morgan pun masih melihat peluang IHSG menguat hingga akhir tahun, didukung perbaikan sentimen dan posisi investor asing maupun domestik yang relatif rendah.
"Seperti yang kita tahu, asing sudah jualan dan cash level reksa dana ekuitas di Indonesia juga cukup tinggi. Jadi, ada banyak amunisi untuk beli di market kita tahun ini," pungkas dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: