Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kualitas Udara Memburuk, Produktivitas Masyarakat Terancam Abu Anak Krakatau

        Kualitas Udara Memburuk, Produktivitas Masyarakat Terancam Abu Anak Krakatau Kredit Foto: Rena Laila Wuri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kualitas udara di sejumlah wilayah Banten, Jawa Barat, dan Jakarta memburuk setelah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai radius sekitar 100–200 kilometer. Kondisi ini berpotensi membatasi aktivitas masyarakat di luar rumah dan meningkatkan risiko terhadap produktivitas, terutama setelah sejumlah wilayah mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

        Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan paparan abu vulkanik meningkatkan konsentrasi sejumlah parameter pencemar udara di Citayam, Tangerang Selatan, Rangkasbitung, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan.

        “Berdasarkan konsentrasi ketiga parameter dengan rata-rata sebagai tersebut di atas, maka Citayam dsk, Tangsel dsk, Rangkasbitung dsk mengalami pencemaran udara dengan kualitas udara dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat,” ujar Ahmad dalam pernyataan resminya, Minggu (6/9/2026).

        Kondisi tersebut terjadi setelah Gunung Anak Krakatau meletus pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07. Abu vulkanik berupa air mancur (lava fountain) kemudian diprediksi menyebar hingga ketinggian 20.000 kaki pada Minggu (6/9/2026) pukul 01.00 ke arah tenggara-selatan, mencakup Banten dan Jawa Barat.

        Di Citayam, konsentrasi rata-rata harian PM10 tercatat sekitar 110 µg/m³, Tangerang Selatan 68 µg/m³, Rangkasbitung 73 µg/m³, Jakarta Pusat 110 µg/m³, dan Jakarta Selatan 151 µg/m³. Sementara itu, konsentrasi PM2.5 masing-masing mencapai 109 µg/m³, 150 µg/m³, 101 µg/m³, 65 µg/m³, dan 68 µg/m³.

        Baca Juga: Mendikdasmen: Sekolah Terdampak Erupsi Anak Krakatau Bisa Gelar PJJ

        Baca Juga: Menhub Minta Maskapai Percepat Refund Tiket Penumpang Imbas Erupsi Anak Krakatau

        Baca Juga: 150 Ribu Penumpang dan 467 Penerbangan Kena Imbas Abu Anak Krakatau

        Ahmad menjelaskan konsentrasi tersebut tidak seluruhnya berasal dari abu vulkanik karena bercampur dengan polutan dari transportasi, industri, aktivitas domestik, debu jalan, pembakaran sampah, hingga PLTU. Namun, abu vulkanik turut meningkatkan intensitas pencemaran udara.

        Untuk sementara, Ahmad menyarankan masyarakat lebih banyak beraktivitas di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup. Jika harus keluar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Dian Ihsan

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: