Harta Pendiri Facebook Anjlok Rp178 Triliun, Eduardo Saverin Tetap Jadi Orang Terkaya Singapura
Kredit Foto: Unsplash/Muhammad Asyfaul
Kekayaan Eduardo Saverin, salah satu pendiri Facebook, anjlok US$10,1 miliar atau sekitar Rp178 triliun dalam setahun menjadi US$32,9 miliar. Meski hartanya tergerus, Saverin masih mempertahankan posisi sebagai orang terkaya di Singapura untuk keempat kalinya berturut-turut.
Penurunan tersebut tercatat dalam daftar 50 orang terkaya Singapura 2026 yang dirilis Forbes pekan lalu. Sebagian besar kekayaan Saverin berasal dari kepemilikannya di Meta Platforms, perusahaan induk Facebook, melansir NVExpress.
Pada 2025, kekayaan Saverin mencapai US$43 miliar. Saat itu, dia menjadi miliarder dengan kenaikan kekayaan terbesar di Singapura setelah hartanya bertambah US$14 miliar seiring penguatan saham Meta.
Namun, kondisi berbalik tahun ini. Saham Meta turun sekitar 25% dalam setahun, sementara laba bersih perusahaan pada kuartal II-2026 turun 14% meski pendapatan meningkat 28%.
Kinerja Meta turut tertekan oleh lonjakan belanja untuk membangun infrastruktur kecerdasan artifisial (AI). Peningkatan investasi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja dan sentimen investor terhadap saham perusahaan.
Saverin mendirikan Facebook bersama Mark Zuckerberg saat keduanya masih berkuliah di Harvard University pada 2004. Miliarder kelahiran Brasil tersebut kemudian menetap di Singapura sejak 2009.
Selain mengandalkan kepemilikan saham Meta, Saverin aktif berinvestasi di sektor teknologi melalui perusahaan modal ventura B Capital yang didirikannya. Perusahaan tersebut mengelola dana lebih dari US$12 miliar dan berinvestasi pada perusahaan teknologi dari tahap awal hingga tahap lanjut.
Pada Juli 2026, B Capital menghimpun US$500 juta untuk dana baru yang berfokus pada perusahaan rintisan tahap awal, terutama yang mengembangkan teknologi AI untuk sektor kesehatan, energi, dan teknologi perusahaan.
Tiga Pendiri Sea Kehilangan US$5,85 Miliar
Penurunan kekayaan juga dialami tiga pendiri Sea Limited, perusahaan teknologi yang menaungi Shopee. Forrest Li, Gang Ye, dan David Chen secara bersama-sama kehilangan US$5,85 miliar dalam setahun terakhir.
Jika digabung dengan penurunan kekayaan Saverin, empat miliarder teknologi tersebut kehilangan hampir US$16 miliar atau tepatnya US$15,95 miliar.
Forrest Li, Chairman dan CEO Sea, mengalami penurunan kekayaan dari US$11,2 miliar menjadi US$7,7 miliar. Posisinya dalam daftar orang terkaya Singapura turun dari peringkat keenam menjadi ke-10.
Gang Ye, Chief Operating Officer Sea, mengalami penurunan kekayaan dari US$6 miliar menjadi US$4,3 miliar. Posisinya turun satu peringkat menjadi ke-14.
Sementara itu, David Chen, Chief Product Officer Shopee, kehilangan US$650 juta sehingga kekayaannya turun dari US$2 miliar menjadi US$1,35 miliar. Posisinya merosot dari peringkat ke-28 menjadi ke-44.
Penurunan kekayaan ketiganya terjadi seiring tekanan terhadap saham Sea yang tercatat di New York. Saham perusahaan tersebut turun hampir sepertiga dalam setahun.
Bisnis e-commerce Shopee menjadi salah satu sumber tekanan karena menghadapi persaingan yang semakin ketat, termasuk dari TikTok Shop. Persaingan tersebut turut menekan margin perusahaan.
Baca Juga: Meta Bayar Rp318 Triliun Gegara Anak Kecanduan Instagram dan Facebook
Baca Juga: Komdigi Panggil Meta soal Keluhan Pemblokiran Massal Akun WhatsApp
Baca Juga: Australia Gebuk Google hingga Meta dengan Pungutan 2,75% Kalau Mau Ambil Konten Lokal
Sea kini berupaya mencari sumber pertumbuhan baru melalui AI. Perusahaan membentuk tim khusus untuk mencari peluang investasi AI secara global dan mulai mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam sistem rekomendasi produk serta berbagai perangkat untuk penjual Shopee.
Sea juga bekerja sama dengan Google untuk mengembangkan layanan berbasis AI, termasuk agen belanja.
Meski kekayaan sejumlah taipan teknologi tergerus, total kekayaan 50 orang terkaya di Singapura tetap mencapai US$239 miliar. Sebanyak 35 orang dalam daftar tersebut mencatatkan peningkatan kekayaan sehingga mampu mengimbangi penurunan yang dialami sebagian miliarder sektor teknologi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri