Kredit Foto: Volvo Indonesia
Volvo Trucks Indonesia menyiapkan truk FMX Edge dengan kapasitas muatan hingga 60 ton untuk diuji di tambang nikel Indonesia. Berdasarkan perhitungan internal Volvo, kendaraan tersebut berpotensi menekan total biaya operasional sekitar 10,3% dibandingkan penggunaan kendaraan dengan kapasitas angkut lebih rendah.
FMX Edge diperkenalkan PT INDO MOBIL Group bersama Volvo dalam Mining Expo 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Truk tersebut memiliki gross vehicle weight (GVW) hingga 77 ton.
Volvo akan melakukan uji lapangan sebelum mempertimbangkan pemasaran FMX Edge secara lebih luas pada 2027. Perusahaan belum mengungkapkan lokasi tambang nikel yang menjadi tempat pengujian maupun menetapkan target penjualan kendaraan tersebut.
Direktur Utama PT INDO MOBIL Group Bambang Prijono SP mengatakan kapasitas angkut yang lebih besar dapat meningkatkan produktivitas karena jumlah material yang dibawa dalam satu perjalanan menjadi lebih banyak.
“Muatan yang lebih besar akan memberikan peningkatan pada produktivitas sekaligus efisiensi angkutan,” ujar Bambang dalam Mining Expo 2026, Rabu (9/9/2026).
Menurut perhitungan internal Volvo, peningkatan kapasitas angkut dapat menekan biaya operasional karena jumlah pengemudi dan mesin yang digunakan tetap.
“Potensi penghematan total biaya operasional sekitar 10,3% karena muatannya lebih banyak, sedangkan pengemudi dan mesinnya tetap satu,” ujarnya.
Pengembangan truk berkapasitas besar tersebut dilakukan ketika pasar kendaraan tambang menghadapi persaingan dari produsen asal China yang menawarkan harga pembelian lebih kompetitif.
Dalam kondisi tersebut, biaya pembelian menjadi salah satu faktor dalam menentukan keekonomian armada. Perusahaan tambang juga perlu memperhitungkan biaya kendaraan selama digunakan, termasuk konsumsi bahan bakar, perawatan, suku cadang, kerusakan, hingga waktu kendaraan tidak beroperasi.
Kapasitas angkut yang lebih besar baru akan menghasilkan efisiensi apabila produktivitas tersebut dapat dipertahankan dalam kondisi operasional tambang.
Karena karakteristik setiap lokasi tambang berbeda, uji lapangan menjadi tahap penting bagi Volvo untuk melihat kinerja FMX Edge secara langsung sebelum menentukan langkah komersialisasi lebih lanjut.
FMX Edge masih menggunakan bahan bakar diesel D5. Volvo menilai teknologi tersebut masih relevan dengan kondisi operasional pertambangan di Indonesia.
Sementara itu, penerapan kendaraan listrik untuk angkutan berat masih menghadapi kebutuhan infrastruktur pengisian daya dan ketersediaan pasokan energi di kawasan tambang.
Bambang mengatakan keberadaan pembangkit listrik sendiri di kawasan tambang dapat menjadi salah satu faktor pendukung untuk penerapan kendaraan listrik.
“Tambang yang sudah memiliki pembangkit listrik sendiri akan lebih memungkinkan untuk menerapkan kendaraan listrik,” ujarnya.
Baca Juga: GM Group Pamerkan Truk Listrik dan Alat Berat EV di Mining Indonesia 2026
Dari sisi layanan purnajual, Volvo memiliki gudang suku cadang di Balikpapan. Populasi truk FMX yang telah beroperasi di Indonesia juga disebut telah melampaui 2.000 unit.
Ketersediaan suku cadang dan populasi kendaraan yang sudah ada menjadi bagian dari dukungan operasional Volvo untuk menjaga tingkat keterpakaian armada.
Uji coba FMX Edge di tambang nikel nantinya akan menjadi dasar bagi Volvo untuk mengevaluasi apakah kapasitas angkut hingga 60 ton dapat memberikan efisiensi sesuai proyeksi dalam kondisi operasional nyata.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: