Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AirAsia Terbelit Utang Rp79,7 Triliun di Tengah Lonjakan Harga Avtur

        AirAsia Terbelit Utang Rp79,7 Triliun di Tengah Lonjakan Harga Avtur Kredit Foto: Air Asia
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        AirAsia pernah menjadi salah satu kisah sukses industri penerbangan murah di Asia. Maskapai yang dibeli Tony Fernandes dan Kamarudin Meranun pada 2001 hanya seharga 1 ringgit atau sekitar Rp4.348 itu berhasil bertransformasi menjadi raksasa low-cost carrier (LCC).

        Kini, lebih dari dua dekade kemudian, AirAsia kembali menghadapi tekanan finansial. 

        Berdasarkan informasi dari Channel News Asia yang dikutip Sabtu (19/9/2026), pemerintah Malaysia telah meminta Malaysia Airlines dan Batik Air bersiap mengambil alih rute domestik dan penumpang AirAsia jika kondisi maskapai memburuk. Namun, belum ada keputusan pengambilalihan.

        AirAsia didirikan pada 1993 dan mulai terbang pada 1996. Saat diambil alih, maskapai tersebut menanggung utang sekitar 40 juta ringgit. Setelah diubah menjadi LCC pada 2002, AirAsia berkembang pesat ke berbagai negara Asia dan mengangkut 100 juta penumpang pada 2010.

        Tekanan mulai meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar dan pandemi. Pada 2020, kapasitas operasi hanya 29%, pendapatan turun 74% menjadi 3,1 miliar ringgit, sedangkan rugi bersih membengkak menjadi 5,9 miliar ringgit.

        AirAsia pernah sukses menjalankan restrukturisasi utang besar selesai Maret 2022, tetapi pemulihan dating dengan biaya mahal. Itu karena Harga avtur melanjak ke US$151 per barel pada kuartal II-2022.

        Tekanan Kembali pada 2026

        Pada Januari 2026, AirAsia X menyelesaikan konsolidasi dengan mengambil alih bisnis penerbangan AirAsia Berhad dan menanggung utang 3,8 miliar ringgit dari Capital A.

        Beberapa bulan kemudian, harga avtur melonjak akibat konflik di Timur Tengah hingga menembus US$200 per barel. AirAsia menyebut biaya bahan bakar operasinya di Malaysia naik 200 juta ringgit hanya dalam sebulan.

        Baca Juga: AirAsia Goyang usai Rugi Rp3,39 T, Malaysia Bakal Gaet Batik Air dan Malaysia Airlines

        Baca Juga: Penumpang AirAsia Diduga BAB di Kursi, Bau Menyengat Penuhi Kabin hingga Mendarat di Shanghai

        Maskapai kemudian menangguhkan 21 rute dan memangkas kapasitas 10% pada April-Mei 2026. Sejumlah rute Indonesia dan Thailand juga dihentikan.

        Pada kuartal II 2026, AirAsia mencatat rugi bersih 830,5 juta ringgit atau sekitar Rp3,59 triliun. Per 30 Juni, kewajiban lancarnya mencapai 18,4 miliar ringgit atau sekitar Rp79,71 triliun, Sedangkan kas hanya 954 juta ringgit.

        Kini, AirAsia sedang mencari pendanaan hingga US$1 miliar dari pasar utang internasional dan 700 juta ringgit fasilitas kredit lokal.

        Namun, sumber yang dikutip menyebut maskapai membutuhkan sedikitnya US$3 miliar atau sekitar Rp53,22 triliun modal segar untuk memperkuat kondisi keuangannya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: