Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

RKAB Terbit, Saham BYAN Melonjak 20% ke Rp13.825

RKAB Terbit, Saham BYAN Melonjak 20% ke Rp13.825 Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mendapat sentimen positif setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk perseroan dan dua anak usahanya, yakni PT Tiwa Abadi serta PT Fajar Sakti Prima.

Terbitnya RKAB tersebut menjadi katalis positif bagi pasar karena mengurangi ketidakpastian yang sebelumnya membayangi operasional BYAN. Perseroan sempat menghadapi kendala dalam memperoleh persetujuan revisi RKAB 2026 yang diperlukan untuk mendukung kegiatan produksi tambang.

Sebelumnya, BYAN bersama Tiwa Abadi dan Fajar Sakti Prima juga menyatakan kondisi kahar (force majeure) terkait pemenuhan kontrak pasokan batu bara kepada pelanggan. Kondisi tersebut terjadi karena perseroan belum mendapatkan persetujuan revisi RKAB.

Dengan diterbitkannya RKAB, kegiatan produksi BYAN dan kedua entitas anak tersebut memiliki kepastian lebih lanjut untuk berjalan sesuai dengan kuota produksi yang telah ditetapkan pemerintah.

Sebelumnya, BYAN mengajukan target produksi batu bara 2026 dalam kisaran 39 juta hingga 76 juta ton. Namun, pemerintah menetapkan kuota produksi sekitar 38 juta ton, lebih rendah dari pengajuan awal perseroan.

Sebagai perbandingan, produksi BYAN sepanjang 2025 mencapai 68 juta ton, naik sekitar 19,5% dari realisasi produksi pada 2024.

Dari sisi biaya, perseroan sebelumnya memperkirakan cash cost atau biaya produksi berada di kisaran US$36-US$42 per ton. Adapun stripping ratio, yakni rasio antara material tanah yang harus dikupas dengan batu bara yang ditambang, diproyeksikan sekitar 4,8-5,2 kali.

Sementara itu, harga jual rata-rata batu bara (average selling price/ASP) diperkirakan berada di kisaran US$46-US$48 per ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi ASP 2024 sebesar US$61,3 per ton.

Baca Juga: Profil Bayan Resources, dari Bisnis Kontraktor Low Tuck Kwong hingga Dibidik Haji Isam

Baca Juga: Moody’s Turunkan Outlook Bayan Resources (BYAN) Jadi Negatif, Ini Penyebabnya

Baca Juga: 3 Anak Usaha Bayan Resources Nyatakan Force Majeure, RKAB 2026 Jadi Biang Masalah

Kepastian penerbitan RKAB turut mengangkat saham BYAN di pasar modal. Pada perdagangan Jumat (18/9/2026), saham emiten batu bara tersebut bergerak menguat signifikan.

Hingga pukul 10.00 WIB, saham BYAN tercatat melonjak sekitar 20% ke level Rp13.825 per saham. Kenaikan itu membuat saham BYAN kena Auto Rejection Atas (ARA).

Penguatan tersebut terjadi setelah pasar mendapatkan kepastian terkait kuota dan izin produksi. Dengan terbitnya RKAB, risiko terhadap keberlangsungan kegiatan produksi dan operasional BYAN menjadi lebih jelas dibandingkan saat persetujuan revisi RKAB masih dalam proses.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan

Tag Terkait: