Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bijih Nikel RI Makin Rendah Kadarnya, Industri Smelter Hadapi Tantangan

        Bijih Nikel RI Makin Rendah Kadarnya, Industri Smelter Hadapi Tantangan Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri nikel menjadi salah satu penopang penting dalam pengembangan hilirisasi mineral di Indonesia. Komoditas ini tidak hanya menjadi bahan baku industri logam dan stainless steel, tetapi juga semakin berkaitan dengan rantai pasok baterai dan kendaraan listrik.

        Besarnya peran tersebut membuat keberlanjutan pasokan bijih nikel menjadi perhatian. Tantangannya bukan hanya soal seberapa banyak nikel yang bisa ditambang, tetapi juga kualitas bijih yang tersedia untuk diolah di dalam negeri.

        Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Rizal Kasli mengungkapkan kadar bijih nikel Indonesia kini cenderung menurun. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri smelter karena kadar bijih berkaitan langsung dengan kebutuhan pengolahan dan efisiensi produksi.

        Rizal mengatakan kadar nikel pada bijih saprolit yang sebelumnya berada di kisaran 1,8% kini turun menjadi sekitar 1,6%. Sementara itu, kadar bijih limonit yang diolah melalui teknologi hidrometalurgi berada di kisaran 1,2% atau bahkan di bawahnya.

        "Kualitas bijih nikel saat ini mengalami penurunan. Dulu kita memproses kadar nikel sekitar 1,8%, sekarang untuk saprolit sudah turun menjadi 1,6%," kata Rizal dalam T50 Summit Indonesia Forum 2026 di Jakarta, Senin (21/9/2026).

        Penurunan kadar tersebut membuat efisiensi menjadi semakin penting dalam kegiatan penambangan dan pengolahan. Ketika kandungan nikel dalam bijih lebih rendah, pengelolaan biaya operasional menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan industri.

        Rizal menyoroti sejumlah aspek yang berpengaruh terhadap efisiensi, mulai dari penggunaan alat berat, pengangkutan material, konsumsi bahan bakar, kondisi jalan tambang hingga perawatan peralatan.

        Menurut dia, industri perlu memperhatikan biaya energi berdasarkan setiap ton material yang diproses. Pengaturan payload, konsumsi bahan bakar, waktu siklus, kondisi jalan dan penerapan predictive maintenance menjadi bagian dari upaya menekan biaya operasional.

        "Yang paling penting adalah biaya energi per ton material yang kita lakukan," ujarnya.

        Perbedaan kadar bijih juga berkaitan dengan teknologi pengolahan yang digunakan. Bijih saprolit dengan kadar nikel lebih tinggi umumnya diproses melalui jalur pirometalurgi seperti rotary kiln electric furnace (RKEF) untuk menghasilkan produk antara seperti nickel pig iron (NPI) dan feronikel.

        Sementara itu, bijih limonit dengan kadar lebih rendah dapat diproses menggunakan teknologi hidrometalurgi, salah satunya high pressure acid leach (HPAL), untuk menghasilkan produk antara yang dapat digunakan dalam rantai pasok bahan baku baterai.

        Di sisi lain, kebutuhan menjaga pasokan bijih juga semakin besar seiring berkembangnya kapasitas pengolahan nikel di Indonesia.

        Rizal memaparkan terdapat 415 izin usaha pertambangan (IUP) nikel, dengan 384 di antaranya berstatus operasi produksi. Sementara jumlah fasilitas pengolahan yang terdata mencapai 79 fasilitas.

        Baca Juga: Ekspor Batik Indonesia Naik, Kemenperin Soroti Tantangan Daya Saing IKM

        Baca Juga: Menperin Agus Gumiwang Bidik Indonesia Jadi Pusat Industri Halal Dunia

        Baca Juga: Kunjungi Suzuki di GIIAS Surabaya, Wamenperin Soroti Industri Komponen Lokal

        Artinya, tantangan industri nikel ke depan tidak semata mengejar volume produksi. Ketika kadar bijih semakin rendah, kemampuan mengelola sumber daya secara efisien menjadi semakin penting agar kegiatan penambangan tetap mampu memasok fasilitas pengolahan dengan biaya yang terukur.

        Rizal juga membuka peluang penggunaan teknologi yang lebih efisien, termasuk elektrifikasi dalam kegiatan operasional. Langkah tersebut dapat diarahkan untuk menekan konsumsi energi sekaligus menjaga produktivitas di tengah tantangan kualitas bijih.

        Dengan demikian, penurunan kadar bijih menjadi salah satu persoalan yang perlu diantisipasi dalam menjaga keberlanjutan industri nikel Indonesia. Di tengah ambisi hilirisasi, industri tidak hanya dituntut menghasilkan lebih banyak produk olahan, tetapi juga harus semakin cermat menghitung biaya untuk mendapatkan setiap ton material.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: