Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ledakan Hilirisasi Nikel Picu Lonjakan PLTU Captive Batu Bara RI

        Ledakan Hilirisasi Nikel Picu Lonjakan PLTU Captive Batu Bara RI Kredit Foto: MDKA
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ledakan industri hilirisasi nikel Indonesia mendorong lonjakan penggunaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive berbahan bakar batu bara. Produksi listrik dari PLTU captive sepanjang 2025 bahkan tercatat sekitar 50% lebih tinggi dibandingkan PLTU yang memasok jaringan listrik nasional (on-grid).

        Temuan tersebut berdasarkan analisis terbaru lembaga riset energi global Ember, yang menyebut ekspansi industri pengolahan mineral menjadi faktor utama peningkatan kebutuhan listrik captive di Indonesia.

        Dalam laporan Ember, total pasokan listrik captive Indonesia mencapai lebih dari 161 terawatt hour (TWh) pada 2025. Dari jumlah tersebut, industri pengolahan nikel menjadi penyerap terbesar dengan konsumsi listrik lebih dari 81 TWh.

        Dominasi batu bara masih sangat kuat dalam memenuhi kebutuhan energi industri nikel. Ember mencatat lebih dari 94% listrik captive untuk pengolahan nikel berasal dari pembangkit berbahan bakar batu bara.

        Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan hilirisasi mineral, khususnya pembangunan smelter nikel, berjalan beriringan dengan peningkatan kebutuhan pembangkit listrik mandiri di kawasan industri.

        Berbeda dengan pembangkit on-grid yang memasok listrik melalui jaringan nasional, PLTU captive dibangun langsung oleh perusahaan industri untuk memenuhi kebutuhan operasional fasilitas mereka sendiri, terutama di wilayah industri yang belum terjangkau jaringan utama PLN.

        "Pembangkit listrik captive memainkan peran penting dalam pembangunan industri di Indonesia. HEESI terbaru telah menghadirkan pendekatan top-down untuk memotret operasi sektor khusus ini. Analisis kami menawarkan perspektif bottom-up dengan fokus yang lebih besar pada aktivitas industri untuk melengkapi data HEESI, dengan tujuan memperkuat kualitas data agar upaya dekarbonisasi Indonesia dapat dilacak dengan lebih baik," kata Giang Vu, analis data di Ember dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).

        Selain nikel, industri pulp dan kertas menjadi pengguna listrik captive terbesar kedua dengan konsumsi sekitar 22 TWh, disusul kawasan industri multisektor sebesar 14 TWh.

        Ember menyebut pendekatan berbasis aktivitas industri memberikan gambaran berbeda dibandingkan metode penghitungan berdasarkan kapasitas pembangkit. Dengan pendekatan tersebut, konsumsi listrik dapat dipetakan berdasarkan sektor pengguna akhir.

        Pertumbuhan konsumsi listrik sektor nikel tidak terlepas dari ekspansi industri pengolahan mineral yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama pembangunan smelter untuk menghasilkan produk antara seperti nickel pig iron (NPI), feronikel, hingga bahan baku baterai kendaraan listrik.

        Emisi PLTU Captive Tembus 135 Juta Ton CO2

        Namun, ekspansi listrik captive berbasis batu bara juga membawa konsekuensi terhadap emisi karbon.

        Ember memperkirakan pembangkit captive berbahan bakar fosil menghasilkan sekitar 135 juta ton CO2 pada 2025, naik dari sekitar 120 juta ton pada 2024.

        Angka tersebut setara dengan sekitar 48% emisi pembangkit listrik yang terhubung ke jaringan nasional.

        Menurut Ember, kebutuhan transparansi data menjadi semakin penting karena pola operasi setiap industri berbeda. Penggunaan asumsi faktor kapasitas yang sama untuk seluruh sektor dinilai dapat menghasilkan estimasi yang kurang akurat.

        Di tengah peningkatan konsumsi batu bara, industri berbasis mineral Indonesia juga menghadapi tantangan dari pasar global yang mulai memasukkan faktor karbon dalam perdagangan.

        Ember menyoroti penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa yang mengenakan biaya karbon terhadap produk impor tertentu seperti besi dan baja, aluminium, semen, serta pupuk.

        Kondisi tersebut membuat perusahaan eksportir perlu memiliki data emisi yang terukur dan dapat diverifikasi untuk menjaga akses pasar.

        Baca Juga: UNTR Perkuat Bisnis Emas dan Nikel di Tengah Tekanan Batu Bara

        Baca Juga: Produksi Nikel Indonesia Dipangkas 120 Juta Ton pada 2026, Ini Penyebabnya

        "PLTU captive tumbuh sangat pesat didorong oleh ledakan hilirisasi logam di Indonesia, sehingga menempatkan pasokan listrik industri di pusat perencanaan nasional. Cara kapasitas ini diarahkan akan menentukan bukan hanya laju transisi energi Indonesia, tetapi juga daya saing globalnya seiring pasar luar negeri memasukkan metrik karbon ke dalam kebijakan perdagangan. Menjembatani pelaporan nasional yang bersifat top-down dalam HEESI dengan pendekatan bottom-up akan membangun baseline transparan yang menjadi syarat penting bagi dekarbonisasi yang kredibel. Mengutamakan integrasi ini sangat krusial jika Indonesia ingin menyelaraskan motor utama pertumbuhan industrinya dengan ambisi iklimnya," kata Katherine Hasan, analis di Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA).

        Meski batu bara masih mendominasi, Ember mencatat energi terbarukan telah memasok sekitar 10% listrik captive Indonesia.

        Pasokan tersebut berasal dari tenaga air, biomassa, dan surya yang banyak digunakan di luar sektor nikel. Industri pulp dan kertas serta minyak sawit menjadi sektor yang memanfaatkan biomassa melalui sistem kogenerasi listrik dan panas dari residu proses.

        Ember menilai peningkatan penggunaan energi terbarukan di sektor industri menjadi langkah penting untuk menekan ketergantungan batu bara sekaligus menjaga daya saing produk Indonesia di pasar global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: