Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Industri Komponen Otomotif RI Masih Andalkan Upah Murah untuk Go Global

        Industri Komponen Otomotif RI Masih Andalkan Upah Murah untuk Go Global Kredit Foto: WE
        Warta Ekonomi, Tangerang -

        Industri komponen otomotif Indonesia dinilai masih memiliki salah satu modal penting untuk memperkuat daya saing di pasar global, yakni biaya tenaga kerja yang relatif murah.

        Kondisi tersebut terutama terlihat di wilayah di luar Jabodetabek. Biaya tenaga kerja yang murah dapat menjadi salah satu pertimbangan industri manufaktur dalam menentukan lokasi produksi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok otomotif global.

        Ketua Bidang Promosi dan Public Relations Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Gagat Prijawan mengatakan kemampuan manufaktur komponen otomotif Indonesia sebenarnya sudah cukup kuat. Hal itu tercermin dari aktivitas produksi dan ekspor kendaraan maupun komponen yang dilakukan industri nasional.

        “Keunggulan yang lain terus terang saja, biaya tenaga kerja kita masih murah,” kata Gagat di Tangerang, Kamis (24/9/2026).

        Menurut dia, kondisi tersebut memang berbeda antara wilayah Jabodetabek dan daerah lainnya. Namun, di luar Jabodetabek, biaya tenaga kerja Indonesia masih dinilai kompetitif untuk mendukung kegiatan manufaktur.

        “Kecuali Jakarta. Kecuali kalau Jabodetabek memang berapa hal, tapi di luar Jabodetabek itu masih murah dan masih kompetitif,” ujarnya.

        Gagat menilai keunggulan biaya tenaga kerja tersebut dapat menjadi salah satu modal Indonesia untuk memperluas peran dalam industri otomotif global. Terlebih, industri komponen nasional tidak hanya memasok kebutuhan pasar domestik, tetapi juga telah terhubung dengan aktivitas ekspor.

        Dia mencontohkan, produksi kendaraan Indonesia juga telah diarahkan ke pasar luar negeri. Menurut Gagat, pada tahun lalu penjualan kendaraan di dalam negeri berada di kisaran 800.000 unit, sedangkan ekspor kendaraan mencapai sekitar 500.000 unit.

        Angka tersebut, lanjutnya, belum memperhitungkan ekspor komponen otomotif yang diproduksi di Indonesia.

        “Artinya komponen kita dan juga mobil produksi Indonesia itu juga diekspor. Nah, hanya saja publikasi ini kan tidak terlalu heboh sehingga orang tidak banyak tahu,” ucap Gagat.

        Produktivitas Tenaga Kerja Jadi Sorotan

        Meski demikian, biaya tenaga kerja murah tidak serta-merta menjadi keunggulan jika tidak diikuti produktivitas. Gagat menanggapi anggapan bahwa produktivitas tenaga kerja Indonesia masih rendah.

        Menurut dia, tingkat produktivitas tenaga kerja tidak semata-mata ditentukan oleh pekerjanya. Pendidikan, metode produksi, serta teknologi dan mesin yang digunakan juga memengaruhi hasil produksi.

        Dengan demikian, dia menilai perbandingan produktivitas tenaga kerja antarnegara perlu mempertimbangkan sistem produksi yang digunakan secara keseluruhan.

        “Selalu orang tanya dan bicara produktivitas tenaga kerja di Indonesia itu rendah. Kalau kami bilang enggak. Rendah itu karena kami belum dididik, belum diajar,” jelas Gagat.

        Dia meyakini tenaga kerja Indonesia dapat mencapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi apabila memperoleh pendidikan dan pelatihan yang memadai serta bekerja dengan metode dan mesin yang setara.

        Baca Juga: Tak Harus Jadi Eksportir, UMKM Bisa Go Global Lewat Industri Otomotif

        Baca Juga: Otomotif RI Masih Tertinggal, Kemenperin: Kepemilikan Kendaraan Jauh di Bawah Malaysia

        Baca Juga: Pasar Otomotif Makin Berubah, 5 Bisnis Astra Putar Strategi

        “Kalau kami memproduksi dengan metode, dengan pendidikan, dan mesin yang sama dengan negara lain, produktivitas tenaga kerja Indonesia juga harus gini. Kami yakin,” tutup Gagat.

        Menurut Gagat, kombinasi antara biaya tenaga kerja yang kompetitif dan peningkatan produktivitas dapat menjadi modal bagi industri komponen Indonesia untuk memperluas pasar ekspor.

        Terlebih, industri otomotif nasional telah memiliki kapasitas produksi yang tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kendaraan yang diproduksi di Indonesia juga telah dikirim ke berbagai pasar luar negeri, sementara komponen buatan lokal turut masuk dalam rantai pasok industri otomotif global.

        Namun, daya saing industri komponen tidak hanya ditentukan oleh biaya tenaga kerja. Kemampuan memenuhi standar kualitas, efisiensi produksi, kapasitas, serta ketepatan waktu pengiriman juga menjadi bagian penting ketika industri nasional bersaing mendapatkan pasar global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: